Washington DC -
Militer Amerika Serikat (AS) membantah laporan yang menyebutkan adanya kondisi buruk di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang saat ini bertugas di Timur Tengah. Menurut pihak militer, kapal tersebut justru memiliki salah satu tingkat perpanjangan masa dinas tertinggi di Angkatan Laut AS.Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di kawasan Timur Tengah, menyatakan melalui platform X pada hari Kamis (14/08) bahwa 84,4% awak kapal memilih tetap berdinas di militer setelah kontrak mereka berakhir.CENTCOM menyatakan para pelaut dan marinir tetap menjalankan tugas meski sudah lebih dari 260 hari berada di laut. Mereka juga membantah kabar adanya awak kapal yang meninggal. Seorang pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus lalu berhasil ditemukan dan diselamatkan dengan cepat, sementara laporan yang menyebut sebaliknya disebut tidak benar.
"Pemberitaan yang keliru dan meluas mengenai penugasan bersejarah USS Abraham Lincoln merupakan bentuk ketidakadilan terhadap prajurit kami dan keluarga mereka," kata CENTCOM.Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa tujuh orang tewas akibat bentrokan keras di atas kapal induk, serta menyebut ketegangan di antara awak kapal berada pada tingkat yang tinggi. Isu kekurangan logistik dan kesehatan mentalSenator AS dari Connecticut, Richard Blumenthal, meminta pemerintah menjelaskan bagaimana mereka mendukung personel di USS Abraham Lincoln. Ia mengutip laporan mengenai kekurangan pasokan, masalah fasilitas sanitasi, dan memburuknya kesehatan mental awak kapal.Laporan itu menyebutkan adanya kekurangan sabun, toilet yang tersumbat, kekhawatiran terkait keselamatan di area dek kapal yang terbuka, hingga gangguan sistem pengiriman surat sehingga paket yang ditujukan kepada awak kapal terlambat selama berbulan-bulan.Angkatan Laut AS menyatakan mereka tidak melihat peningkatan percobaan bunuh diri di kapal, tetapi menolak memberikan data rinci dengan alasan keamanan operasional dan privasi pasien. Mereka juga mengonfirmasi adanya seorang pelaut yang jatuh ke laut pada awal Agustus. Orang tersebut berhasil diselamatkan, mendapatkan perawatan medis, dan kemudian dipindahkan untuk penanganan lebih lanjut.Secara terpisah, Senator Chuck Schumer menyerukan agar Menteri Pertahanan Pete Hegseth dicopot dari jabatannya. Ia menuduh para pelaut harus menanggung akibat dari apa yang ia sebut sebagai ketidakmampuan Hegseth dalam menjalankan tugasnya.Trump ubah kebijakan kapal induk Angkatan Laut ASDalam perkembangan lain, Presiden AS Donald Trump mengizinkan Angkatan Laut menggunakan kapal yang dibangun di luar negeri dan memerintahkan penghentian penggunaan sistem peluncur pesawat elektromagnetik (EMALS) pada kapal induk kelas Gerald R. Ford yang akan datang.Sebagai gantinya, Trump memerintahkan Angkatan Laut kembali menggunakan ketapel uap (steam catapult) yang lebih tradisional.Keputusan ini akan mempengaruhi USS Doris Miller, kapal induk keempat dalam kelas Gerald R. Ford. Perubahan desain tersebut diperkirakan akan membebani pembayar pajak Amerika hingga ratusan juta dolar.Trump telah lama mengkritik sistem EMALS karena dianggap lebih mahal dan lebih rumit dibandingkan ketapel uap."Mereka menghabiskan miliaran dolar untuk ketapel listrik dan sistem itu tidak bagus. Tidak sebaik yang seharusnya dan terlalu rumit," kata Trump dalam sebuah konferensi pertahanan bulan lalu.Namun perusahaan General Atomics, pembuat EMALS, memperingatkan bahwa perubahan desain saat proyek sudah hampir 50% selesai dapat menimbulkan kenaikan biaya yang besar, keterlambatan proyek, risiko integrasi teknologi yang signifikan.Memo yang ditandatangani Trump juga membuka peluang bagi galangan kapal asing yang berinvestasi besar di Amerika Serikat untuk membangun hingga dua kapal di galangan asal mereka guna membantu mempercepat pemenuhan kebutuhan Angkatan Laut AS.Selain itu, Trump memerintahkan Menteri Pertahanan untuk membangun galangan kapal Angkatan Laut AS kelima guna meningkatkan kapasitas perbaikan kapal selam dan kapal induk.Peran USS Abraham Lincoln dalam konflik dengan IranUSS Abraham Lincoln dan kapal-kapal pendampingnya meningkatkan kehadiran militer AS di Timur Tengah setelah dipindahkan dari Laut China Selatan pada awal Januari lalu.Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari, kapal induk tersebut beroperasi di Laut Arab sebagai bagian dari blokade laut AS yang bertujuan mencegah kapal masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.Kini USS George Washington yang berbasis di kawasan Pasifik sedang bergerak menuju Timur Tengah, sementara laporan mengenai masalah kesehatan mental dan kekurangan pasokan di USS Abraham Lincoln terus bermunculan.USS George Washington bergerak dari Asia PasifikMenurut Angkatan Laut AS, USS George Washington meninggalkan Da Nang, Vietnam, minggu lalu. Kapal induk tersebut, bersama satu kapal penjelajah dan satu kapal perusak, kemudian terlihat melintasi Selat Singapura.Seorang pejabat Angkatan Laut yang berbicara secara anonim mengonfirmasi bahwa kapal tersebut berada di Selat Malaka, jalur yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Posisi ini menunjukkan bahwa kapal sedang menuju ke Samudra Hindia, dan kemungkinan besar ke kawasan Timur Tengah.Jika USS George Washington benar-benar menggantikan USS Abraham Lincoln, maka untuk sementara waktu kawasan Pasifik dapat tidak memiliki kehadiran kapal induk AS dalam jangka waktu yang belum diketahui.Editor: Rizki NugrahaTonton juga video "Pentagon Pamer Pesawat B-1 Bombers saat Gelar Operasi Lawan Iran"
















