Jakarta -
Iran mensyaratkan sejumlah konsesi dari Amerika Serikat (AS) sebelum membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran meminta AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran, mencabut sanksi ekonomi, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta membayar kompensasi atas kerusakan akibat perang."Pihak AS harus menghentikan dan memperbaiki tindakannya yang ilegal dan merusak," kata Baghaei. Ia menegaskan pembukaan kembali selat bergantung pada terpenuhinya tuntutan tersebut.Pada Senin (10/8), Baghaei mengatakan pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran berlangsung "lancar dan konstruktif". Menurutnya, kedua pihak telah menyepakati peta jalur pelayaran, sementara sejumlah persoalan teknis masih belum terselesaikan.
"Kami telah mencapai kesepakatan mengenai peta jalur pelayaran," kata Baghaei. Pembahasan juga mencakup "navigasi yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim dan pemberantasan kejahatan".Iran sebelumnya menyatakan berencana mengenakan biaya kepada kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Amerika Serikat telah berulang kali menolak kesepakatan yang memungkinkan Teheran mengenakan biaya atas akses ke jalur tersebut. Menurut Reuters, tuntutan Iran sebagian besar sejalan dengan ketentuan dalam kesepakatan perdamaian awal yang ditandatangani pada Juni, tetapi kemudian gagal dilaksanakan.Selat Hormuz secara efektif tertutup sejak dimulainya perang. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Iran mengatakan pembukaan kembali selat tetap bergantung pada penghentian sanksi dan ancaman militer AS serta pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang.Trump balas tuntut kompensasi dari IranTuntutan Iran mendapat respons dari Presiden AS Donald Trump. Pada Senin (10/8), Trump mengatakan Washington juga akan meminta kompensasi dari Iran dalam setiap perundingan perdamaian."Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang mereka timbulkan selama periode 50 tahun," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Ia mengatakan pembayaran tersebut akan mencakup kematian warga sipil dalam demonstrasi serta anggota militer AS di kawasan tersebut."Jika ada kerusakan yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerusakan tersebut," ujar Trump.Dalam unggahan di media sosial, Trump juga mengatakan Iran harus bertanggung jawab atas "kerusakan dan kematian" yang terjadi di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza. Ia menyatakan tuntutan tersebut akan dimasukkan dalam perundingan dengan Iran.Trump turut meminta kompensasi bagi keluarga 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan terhadap kapal USS Cole pada 2000. Namun, Reuters mencatat serangan tersebut dikaitkan dengan al-Qaeda, bukan Iran.Tuntutan baru dari Washington muncul setelah Teheran lebih dulu meminta kompensasi dan penghentian sanksi. Perkembangan ini berpotensi memperumit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Harga minyak mentah pada Senin ditutup sekitar 5% lebih tinggi setelah tuntutan Trump mengurangi prospek tercapainya kesepakatan.Klaim berbeda soal kondisi Selat HormuzDi tengah negosiasi, terdapat perbedaan pernyataan terkait kondisi Selat Hormuz. Pada Senin (10/8), Trump mengatakan ranjau telah dibersihkan dan jalur tersebut sudah terbuka untuk lalu lintas komersial."Ada sedikit kerumitan karena mereka [Iran] terkadang menjatuhkan ranjau, dan kami menemukan ranjau tersebut. Kami telah membersihkan seluruh selat dari ranjau," kata Trump. Ia juga menyatakan Amerika Serikat memiliki "100 persen" kendali atas jalur tersebut.Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran memasang banyak ranjau di selat tersebut pada awal perang. Washington, menurut Vance, tengah menyiapkan mekanisme untuk menjamin keselamatan pelayaran, termasuk pembersihan ranjau dan komitmen Iran untuk tidak menyerang kapal komersial.Namun, Reuters melaporkan Selat Hormuz masih secara efektif tertutup sejak perang dimulai. Iran sebelumnya mengatakan pembukaan kembali selat bergantung pada kesepakatan dengan Amerika Serikat dan sekutunya.Di sisi lain, Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran melalui "Operation Economic Fury". Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai "padanan finansial" dari kampanye pengeboman, termasuk ancaman sanksi terhadap negara yang membeli minyak Iran atau berhubungan dengan sistem perbankannya.Menurut Departemen Keuangan AS, pengiriman minyak Iran turun dari rata-rata 1,8 juta barel per hari sebelum perang menjadi kurang dari 500.000 barel per hari dalam sebulan terakhir. Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi Iran menyusut 5,4 persen, sementara pemerintah Iran melaporkan inflasi tahunan sebesar 88,6 persen.Richard Nephew, peneliti senior di Columbia University, mengatakan tekanan ekonomi belum memiliki tujuan yang jelas. "Tekanan ekonomi mungkin menjadi bagian dari strateginya, tetapi dia belum menjelaskan tujuannya," kata Nephew.Juan Zarate, mantan wakil penasihat keamanan nasional AS, mengatakan sanksi dan blokade memberi Washington pengaruh ekonomi dan finansial terhadap Iran, tetapi dampaknya membutuhkan waktu. "Pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh Amerika Serikat bersedia mempersempit perdagangan minyak Iran dan mengancam negara ketiga dengan sanksi berat," kata Zarate.Perkembangan ini berlangsung ketika Trump menghadapi tekanan domestik untuk mengakhiri perang. Harga bahan bakar yang meningkat juga menjadi isu politik menjelang pemilihan paruh waktu November.Editor: Rizki NugrahaSimak juga Video: Trump: Kami Menguasai Selat Hormuz Sepenuhnya!









