KOMPAS.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz sampai pemerintah Amerika Serikat (AS) mematuhi dan memenuhi seluruh daftar tuntutan yang diajukan oleh pihak Teheran, termasuk pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Tindakan pemblokiran efektif yang dilakukan oleh Iran terhadap jalur lalu lintas energi krusial dunia tersebut telah mengguncang negara-negara sekutu, mengacaukan pasar global, serta memicu lonjakan harga minyak dunia.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia memilih pendekatan santai dalam menghadapi Teheran. Trump mengisyaratkan keyakinannya bahwa Washington dapat menunggu hingga kondisi perekonomian Iran terdesak secara mandiri.Di sisi lain, Teheran secara tegas berkeras untuk tetap memegang kendali atas Selat Hormuz setelah perang berakhir dan berencana untuk mengenakan tarif tol bagi kapal yang melintas.
Iran juga berulang kali menyerang kapal-kapal yang dituduh mencoba menerobos atau menghindari rute pelayaran resmi yang ditetapkan, dilansir dari France24, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Iran-Oman Hampir Capai Kesepakatan, tapi Belum Cukup untuk Membuka Selat Hormuz











