PADA 5 Agustus 2026, dari Teheran datang kabar yang ditunggu-tunggu banyak ibu kota di dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa Iran dan Oman telah menyepakati koordinat geografis bagi jalur pelayaran baru di Selat Hormuz, titik tersempit sekaligus paling strategis dalam peta energi global.
Kesepakatan itu disebut mencakup dimensi teknis, hukum, keamanan, dan lingkungan, serta mengusulkan pembentukan pusat koordinasi bersama untuk mengatur lalu lintas maritim.Bagi dunia yang selama hampir setengah tahun menyaksikan selat itu lumpuh akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026, ini tampak sebagai secercah harapan.
Meski demikian, di balik optimisme itu tersimpan sejumlah syarat dan ketidakpastian yang tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Persoalannya, kesepakatan Iran–Oman ini bukanlah kunci yang serta-merta membuka gerbang.














