PERNAHKAH kita membayangkan rasanya menjadi seorang anak kecil di pelosok negeri, duduk di bangku kelas dengan perut keroncongan, lalu menerima sekotak makanan?
Di meja sekolah yang sempit, dengan riuh suara teman-teman sebaya, makanan itu tersaji.Namun, di balik suapan-suapan itu, ada sebuah imbauan baru yang lahir dari ruang-ruang rapat birokrasi.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta agar makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihabiskan langsung di sekolah dan para guru diminta mengedukasi siswa agar makanan tersebut jangan dibawa pulang ke rumah (detikFinance, 6 Agustus 2026).
Sekilas, kalimat itu terdengar seperti instruksi teknis yang biasa untuk mengantisipasi risiko kesehatan.
Tapi mari kita tarik napas sejenak, lepaskan kacamata birokrasi, dan lihat ini dengan mata hati yang paling jernih.









