JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah kalimat masih diingat oleh Serka (Mar) (Purn) Muhtadji, meski sudah lebih dari setengah abad berlalu.
"Nanti saya gimana ini?" kata Muhtadji saat ditemui di RSPPN Panglima Besar Soedirman, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2026).Bukan karena peluru pertama yang melintas di dekat kapal yang membawanya menuju Dili, Timor Timur, pada 1976. Bukan pula karena beratnya medan operasi yang dihadapinya selama 14 bulan.
Melainkan, pertanyaan "nanti saya gimana ini?" muncul ketika dia berdiri di hadapan deretan makam prajurit militer Indonesia yang sudah gugur lebih dulu di Timtim, singkatan populer untuk Timor Timur kala itu.
Baca juga: Cerita Soerito Hadapi Fretilin di Timor Timur: Jam 4 Pagi Kami Sudah Siaga untuk Bertempur
Baru saja menginjakkan kaki di daerah operasi, Muhtadji yang dulu menjadi prajurit Korps Komando (KKO) itu langsung diajak berziarah.







