JAKARTA, KOMPAS.com - Di ruang kremasi yang diselimuti duka, Agus menghabiskan 27 tahun hidupnya untuk mengantar perjalanan terakhir ribuan jenazah dari berbagai agama, mulai dari Budhha, Konghucu, Hindu, dan Kristen.

Pekerjaan penuh tanggungjawab ini, tentu bukan menjadi cita-citanya sejak kecil.Keputusannya untuk bekerja sebagai petugas kremasi, berawal karena mendapat tawaran dari temannya tepat di tahun 2000 silam.Warga Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara itu sebelumnya hanya bekerja serabutan. Penghasilannya kerap tak menentu.

"Teman sih yang ngajak untuk kerja di sini bantu-bantu. Awalnya jadi keamanan, tapi keamanan diperbantukan di bagian oven. Secara otodidak belajar sendiri jadinya," ujar Agus ketika ditemui di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (30/7/2026).

Sejak saat itu, hari-hari yang dijalaninya berubah total dan harus menghadapi jenazah-jenazah yang dikremasi setiap harinya.

Baca juga: Dua Demo Berlangsung di Jakarta Hari Ini, Berikut Lokasi yang Perlu Dihindari Pengendara