Riyadh -
Kelompok pemberontak Houthi diduga berupaya "meniru" strategi Iran dalam menguasai Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi fokus perselisihan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Houthi ingin memberlakukan strategi yang sama di Laut Merah, setelah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.Kelompok yang bermarkas di Yaman itu, seperti dilansir Al Jazeera dan AFP, Selasa (28/7/2026), dinilai sedang berupaya menguasai arus pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan gerbang menuju Laut Merah."Kelompok Houthi ingin meniru model Iran, dan langkah ini akan menutup dua selat utama yang menjadi pintu gerbang menuju perairan Teluk dan Laut Merah," kata calon Menteri Luar Negeri (Menlu) untuk pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, saat berbicara kepada wartawan.
Al-Zouba menyebut aksi kelompok pemberontak yang didukung Iran itu "selaras" dengan eskalasi yang dikobarkan Iran di kawasan Timur Tengah. Saat berbicara di Kedutaan Besar Yaman di Riyadh, Saudi, pada Senin (27/7) waktu setempat, Al-Zouba mengatakan bahwa Houthi semakin berani bertindak karena kurangnya respons internasional yang layak terhadap aktivitas kelompok tersebut di kawasan.Selat Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan perairan Samudra Hindia yang lebih luas.Sama halnya dengan Selat Hormuz, sebagian besar perekonomian global sangat bergabung pada kelancaran arus lalu lintas maritim yang melintasi Selat Bab el-Mandeb. Sekitar 30 persen lalu lintas peti kemas dunia, serta hingga 12-15 persen dari total perdagangan global, melewati jalur Laut Merah.Kondisi geografis Yaman memberikan pengaruh dominan atas lalu lintas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb bagi pihak mana pun yang menguasai wilayah barat negara tersebut.








