JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia mulai menghidupkan kembali proyek gas Lapangan Tuna di Laut Natuna Utara, meski kawasan tersebut sebelumnya menjadi sumber keberatan dari China.

Operator baru proyek, Prime Group, mengonfirmasi bahwa aktivitas terkait pengembangan lapangan gas itu telah dilanjutkan setelah bertahun-tahun tertunda akibat ketidakpastian komersial dan tekanan geopolitik.Kepada This Week in Asia, yang dilansir South China Morning Post, Rabu (22/7/2026), Prime Group menyatakan bahwa aktivitas yang berkaitan dengan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Lapangan Tuna telah kembali berjalan sesuai ketentuan regulator Indonesia. Perusahaan tersebut mengambil alih pengelolaan proyek dari Harbour Energy asal Inggris.

Baca juga: Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...

Lapangan Tuna berada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara.

Namun, wilayah tersebut berada di area yang tumpang tindih dengan klaim sembilan garis putus-putus (nine-dash line) China di Laut China Selatan, sehingga Beijing sebelumnya memprotes aktivitas pengeboran Indonesia.