SEJAK 1986, saat masih duduk di Sekolah Dasar Inpres, saya setia, mengagumi Diego Armando Maradona, dan mendukung Argentina.

Setelah juara di tahun 1986, sang dewa sepak bola itu menangis di final Piala Dunia 1990.Upaya Argentina menahan Jerman Barat gagal. Penalti Andreas Brehme membuyarkan mimpi Maradona dan rakyat Argentina juara dunia back to back.

Hanya delapan bulan setelah tembok Berlin runtuh--sebagai awal unifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur--Lothar Matthaus dkk mengirim negerinya ke pucuk superioritas bola dunia.

Masa menunggu selama 12 tahun dan masuk final tiga Piala Dunia (1982, 1986, 1990) terbayar.

Pada 1994, sisa-sisa kejayaan Maradona, masih membuat negaranya mempercayakan ban kapten pada Maradona.