BANYAK pengamat geopolitik sebenarnya telah memprediksi bahwa titik nadir keamanan di Timur Tengah akan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 2026.
"Islamabad Memorandum of Understanding" (MoU) yang ditandatangani secara jarak jauh pada 17 Juni 2026, oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dari awal memang berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Alih-alih menjadi pakta perdamaian komprehensif, memorandum tersebut sekadar instrumen darurat untuk meredakan permusuhan dari "Operasi Epic Fury" yang telah berkecamuk sejak Februari 2026.Kegagalan proses perdamaian ini adalah konsekuensi logis dari ambisi yang sebenarnya tidak realistis.
Kesepakatan tersebut mendelegasikan penyelesaian masalah paling kompleks di kawasan ke dalam jendela negosiasi 60 hari.
Kerangka kerja ini mengabaikan realitas benturan yurisdiksi yang sangat akut, khususnya mengenai kedaulatan di Selat Hormuz.







