ADA kisah menarik tempo dulu yang menyeruak dari Istana di era Presiden Soeharto yang layak dikenang bukan karena kemarahannya, melainkan karena apa yang tersembunyi di baliknya: tentang ornamen arsitektural komunikasi politik Istana.

Cerita bermula sebuah proyek nasional senilai Rp 1,7 triliun nyaris terhenti bukan karena tidak ada uang, bukan karena tidak ada kemauan politik, tetapi karena tersumbatnya jalur komunikasi birokrasi. Dan itu tidak pernah sampai secara utuh ke telinga kepala negara.

Tepat 51 tahun lalu, pada 6 Juli 1975, kita tahu bahwa di masa pemerintahan orde baru, Indonesia pernah menandatangani kerja sama dengan konsorsium perusahaan Jepang untuk membangun Proyek Asahan: pembangkit listrik tenaga air sekaligus pabrik peleburan aluminium di Sumatera Utara.Presiden Soeharto menaruh perhatian khusus dan menunjuk A.R. Soehoed, sesama purnawirawan yang dipercayanya, sebagai Ketua Otorita Proyek Asahan.

Namun, setahun kemudian, proyek itu tersendat. Anggaran yang dijanjikan pemerintah tak kunjung cair.

Soehoed berulang kali menagih kepastian kepada para menteri ekonomi. Namun, jawabannya selalu sama: belum ada kejelasan.