KEBOCORAN dokumen intelijen sensitif yang dipublikasikan oleh The New York Times pada awal Juli 2026, membuka tabir perselisihan unik dalam aliansi Amerika Serikat dan Israel di tengah kecamuk perang Timur Tengah.

Laporan tersebut mengungkap skema rahasia Pemerintah Israel untuk melenyapkan para negosiator puncak Republik Islam Iran guna menyabotase perundingan damai yang dirintis oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Konspirasi klandestin ini menandai berakhirnya keselarasan taktis antara Washington dan Tel Aviv pasca-pecahnya perang bilateral dengan Teheran yang dimulai pada 28 Februari 2026.Geopolitik pembunuhan sepihak (unilateral decapitation) yang dijalankan Israel memicu benturan kepentingan yang tajam di panggung diplomatik global.

Fokus utama dari operasi eliminasi yang dirancang oleh dinas intelijen luar negeri Israel, Mossad, adalah dua tokoh kunci, yakni Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Keduanya dinilai sebagai representasi kelompok pragmatis di Teheran yang memiliki kapasitas politik untuk merumuskan draf perjanjian damai yang dapat diterima oleh Gedung Putih.