PRESIDEN RI ke-7, Joko Widodo, akhirnya benar-benar menepati janjinya untuk turun gunung ke tengah-tengah rakyat.

Pada 26–28 Juni 2026, Jokowi memulai safari politik perdananya pasca-purnatugas dengan mengunjungi Provinsi Lampung, lengkap dengan kemeja dan topi berlogo Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) di Mesuji dan Tulang Bawang, mengikuti kirab budaya, hingga menerima gelar adat kehormatan “Baginda Pemuka Bangsa” dari lima kerajaan adat Lampung (Kompas.com, 27/6/2026).

Jokowi tampak percaya diri bahwa rakyat akan menyambutnya dengan hangat. Kesediaannya terjun hingga ke tingkat kecamatan di seluruh Indonesia, seperti pernah ia tegaskan saat Rakernas PSI di Makassar, 31 Januari 2026, dan diulang dalam Kongres PSI di Solo, bahwa ia masih sanggup mendatangi 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan sekitar 7.000 kecamatan (CNN Indonesia, 14/6/2026), adalah ikhtiar melanggengkan masa depan politik dinastinya.Posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden akan rapuh pada 2029 bila tidak ditopang oleh partai yang kuat.

Magnet yang Tak Selalu Menular

Secara elektoral, perhitungan Jokowi tidak sesederhana sambutan meriah di lapangan. Survei Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Juni 2026 memang menunjukkan magnetnya masih bekerja.