PIDATO Presiden pada peringatan hari lahir PKB ke-28 pada 23 Juli lalu menghidupkan lagi istilah usang: londo ireng.
Ia ditembakkan ke sekelompok warga negara di luar lingkar kekuasaan, mulai dari jurnalis, pengamat, hingga aktivis LSM.
Setelah menjadi perbincangan ramai, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menyampaikan klarifikasi. Istilah tersebut hanyalah analogi sejarah untuk menyindir mereka yang dianggap mengutamakan kepentingan asing di atas kepentingan nasional.Secara historis, Londo Ireng atau Zwarte Hollanders awalnya merujuk pada tentara bayaran asal Afrika Barat yang direkrut oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19 untuk memadamkan perlawanan domestik di Nusantara.
Ketika istilah ini dipungut kembali oleh kekuasaan di abad ke-21, terjadi lompatan semantik yang mengkhawatirkan.
Apakah pemerintah sedang melakukan monopoli patriotisme, hanya pemerintah yang berhak menentukan siapa yang nasionalis, siapa yang Londo Ireng?









