Jakarta - Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) menilai jatuhnya harga ayam hidup atau live bird saat ini tidak terjadi hanya karena faktor kelebihan pasokan semata.Peternak menilai ada masalah struktural yang saling berkaitan. Mulai dari tata kelola impor bahan baku pakan, tekanan likuiditas industri pakan, hingga melemahnya posisi tawar peternak rakyat."Kondisi yang terjadi saat ini merupakan bentuk Cost-Price Squeeze, yaitu ketika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual justru mengalami penurunan. Situasi ini membuat margin usaha peternak tergerus secara sistematis dan berpotensi mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat," jelas para peternak dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/6/2026).

Perlu diketahui, saat ini harga ayam hidup di berbagai sentra produksi nasional berada pada kisaran Rp 17.000-15.000 per kilogram. Sementara biaya pokok produksi peternak telah mencapai sekitar Rp 22.000 per kilogram.Pada saat yang sama, harga pakan yang merupakan komponen terbesar biaya produksi terus mengalami kenaikan dan kini berada pada kisaran Rp 8.600-9.500 per kilogram, meningkat sekitar Rp 1.000 per kilogram jika dibandingkan periode sebelumnya.Kondisi tersebut menyebabkan peternak rakyat mengalami kerugian antara Rp 4.000-5.000 per kilogram ayam yang dijual. Dengan rata-rata bobot panen 2 kilogram per ekor, kerugian yang diderita para peternak dapat mencapai Rp 8.000-10.000 per ekor."Peternak rakyat tidak sedang menghadapi krisis harga ayam semata, tetapi menghadapi krisis margin usaha akibat harga jual yang turun bersamaan dengan kenaikan biaya pakan yang tidak terkendali," sambung asosiasi peternak ayam itu.Lebih jauh, PERMINDO menilai akar persoalan tidak berhenti pada harga pakan dan harga ayam semata. Namun terdapat efek domino dalam rantai pasok nasional yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.Menurut organisasi peternak itu, perubahan mekanisme pengadaan bahan baku pakan impor yang semakin terkonsentrasi melalui satu pintu dengan sistem pembayaran Cash Before Delivery (CBD) telah meningkatkan kebutuhan modal kerja industri pakan secara signifikan.Bahan baku utama seperti soybean meal (SBM), feed wheat, dan berbagai komponen pakan lainnya kini membutuhkan dukungan likuiditas yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, pabrik pakan skala menengah dan kecil yang tidak memiliki kekuatan modal seperti perusahaan besar menghadapi tekanan arus kas yang semakin berat.Akibatnya, banyak pabrik pakan harus mempercepat penagihan kepada peternak guna menjaga ketersediaan dana untuk pembelian bahan baku berikutnya. Tekanan likuiditas yang semula berada di tingkat industri pakan kemudian berpindah ke tingkat peternak.Pada akhirnya peternak yang membutuhkan dana untuk membayar pakan, bibit ayam pedaging, obat-obatan, tenaga kerja, serta operasional kandang akhirnya terpaksa menjual ayam lebih cepat meskipun harga pasar sedang rendah."Dalam banyak kasus, ayam dijual sebelum mencapai bobot optimal hanya untuk memenuhi kebutuhan pembayaran yang mendesak. Fenomena ini memunculkan praktik panic selling atau penjualan terpaksa yang terjadi secara luas di berbagai sentra produksi," papar asosiasi tersebut.Masalahnya ketika banyak peternak menjual ayam dalam waktu bersamaan karena tekanan pembayaran, posisi tawar peternak melemah drastis. Ruang tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pedagang perantara atau middle man yang memiliki kemampuan membeli dalam jumlah besar dan mengendalikan arus perdagangan di lapangan.Jika kondisi ini terus berlangsung, maka yang pertama kali tersingkir bukanlah perusahaan besar, melainkan peternak rakyat dan pelaku usaha menengah yang selama ini menjadi tulang punggung produksi protein hewani nasional.PERMINDO meminta pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, Badan Pengaturan (BP) BUMN, serta BUMN pangan untuk melakukan langkah korektif yang menyentuh akar persoalan.Beberapa usulan yang disampaikan antara lain evaluasi dampak tata kelola impor bahan baku pakan terhadap likuiditas industri, penyediaan fasilitas pembiayaan rantai pasok bagi pabrik pakan menengah dan kecil, pembentukan buffer stock bahan baku nasional, penguatan program serapan ayam hidup dan karkas ketika harga berada di bawah HPP, serta pembangunan sistem data nasional yang transparan mengenai produksi bibit ayam, populasi ayam, stok karkas, dan kebutuhan pasar.