Jakarta - Menyusul tekanan yang sangat besar dari sesama anggota Partai Buruh, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah mengumumkan pengunduran dirinya.Di Berlin, kabar mundurnya Starmer membuat sebagian orang merasa cukup kehilangan. "Bagi pemerintah Jerman, Keir Starmer selalu menjadi mitra yang dapat diandalkan dan dekat dalam isu-isu kebijakan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan Ukraina," kata juru bicara pemerintah Stefan Kornelius pada Senin (22/6). Dan para politikus Jerman sangat menyadari bahwa Starmer-lah yang secara khusus berupaya membangun kembali hubungan dengan Uni Eropa (UE), terutama dengan Jerman, setelah Brexit.Kini telah genap sepuluh tahun sejak Inggris menggelar referendum untuk keluar dari Uni Eropa. Ketika hasilnya diumumkan pada pagi hari tanggal 24 Juni 2016, gelombang kejut menyebar ke seluruh Uni Eropa, terutama di Jerman. Sedikit di bawah 52% pemilih memilih meninggalkan Uni Eropa, sementara 48% memilih tetap bertahan. Menteri Luar Negeri Jerman saat itu, yang kini menjabat sebagai Presiden Federal, Frank-Walter Steinmeier, menyebutnya sebagai sebuah "bencana", sementara Kanselir saat itu, Angela Merkel, menggambarkannya sebagai titik balik yang sangat mendalam bagi Eropa.