Jakarta - "Bagi ruang redaksi kami, AI adalah alat yang membantu kami menyederhanakan sekaligus meningkatkan beberapa langkah dalam proses editorial. Namun, AI jelas bukan alat yang diizinkan untuk mengambil alih inti pekerjaan kami." Inilah penjelasan yang diterbitkan akhir pekan lalu oleh surat kabar Tagesspiegel yang berbasis di Berlin, ketika berupaya meredam skandal yang mengguncang dunia media di Jerman.Dalam teks yang sama, pihak redaksi memaparkan alasan di balik keputusan drastis untuk menghentikan sementara publikasi kolom salah satu komentator politik paling terkenal mereka, setelah terungkap bahwa Stephan-Andreas Casdorff, mantan penerbit dan pemimpin redaksi surat kabar tersebut, menggunakan akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun artikel-artikel opini.Pria berusia 67 tahun itu mengatakan bahwa ia menyadari besarnya pelanggaran yang telah dilakukannya: "Saya telah melakukan kesalahan besar, merusak reputasi publikasi ini dan reputasi saya sendiri," kata Casdorff. "Untuk itu, saya menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Saya menggunakan AI dalam teks-teks tersebut. Seharusnya saya mengungkapkan hal itu, dan karena itu, saya tidak membiarkan artikel-artikel tersebut diterbitkan."