NEW YORK, KOMPAS.com - Menjelang Piala Dunia, banyak pecinta sepak bola internasional ragu terhadap gagasan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama untuk turnamen sepak bola terbesar ini.

Kekhawatiran itu dipicu oleh bayang-bayang rumitnya prosedur pengurusan visa, tingginya biaya akomodasi, isu kekerasan senjata api, hingga anggapan bahwa warga lokal kurang meminati olahraga si kulit bundar.Meskipun kekhawatiran tersebut belum sepenuhnya hilang, seiring berjalannya turnamen, media sosial dibanjiri unggahan dari para penggemar yang mengunjungi negara itu untuk pertama kalinya dan menemukan sesuatu yang lebih positif.

Ada budaya khas toko ritel 24 jam, isi ulang soda gratis, sayap ayam yang dicelupkan ke dalam saus ranch, dan sambutan hangat dari warga AS.

Baca juga: AS Tolak Longgarkan Pembatasan Perjalanan Timnas Iran di Piala Dunia

Keramahan yang mengubah stereotip