Padang - Bandara Internasional Minangkabau, di Padang Sumatera Barat menghadapi tantangan berkurangnya jumlah penumpang . Sampai Mei 2026, jumlah penumpang mencapai 931.737 atau turun 61% dibandingkan sepanjang periode 2025.General Manager Bandara Internasional Minangkabau Dony Subardono mengatakan penurunan jumlah penumpang itu dibarengi dengan turunnya jumlah penerbangan.Tercatat sampai Mei 2026, jumlah penerbangan sebanyak 7.492 atau turun 59% dibandingkan periode sepanjang 2025.
"Penumpang turun salah satunya tentang ketersediaan armada," kata Dony di Bandara Minangkabau, Padang, Jumat (19/6/2026).Dony mengatakan sejak COVID-19 jumlah armada pesawat berkurang sehingga maskapai cenderung memilih rute yang banyak peminat.Di satu sisi, para penumpang di Bandara Internasional Minangkabau merupakan perantau sehingga ramai di saat-saat tertentu saja seperti Hari Besar Keagamaan Idul Fitri dan acara besar lainnya di Sumatera Barat."Ini karena ada liburan, kemudian ada event-event di Sumatera Barat, rata-rata per hari untuk tiga hari ini sudah lumayan, kembali ke angka 6.000 per hari," beber Dony.Selain itu, penurunan penumpang juga dipicu konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga avtur, dan ujungnya mendongkrak harga tiket pesawat."Di awal geopolitik itu penumpang sudah langsung turun. Itu para pemilik armada tentu akan menggunakan secara optimal. Jadi kalau memang penumpangnya tidak full, mereka tidak terbang. Lebih baik memilih begitu kan daripada jalan, tetapi biaya operasionalnya tinggi. Harga tiket juga sudah langsung segera disesuaikan," terang Dony.Sampai akhir 2026 ditargetkan jumlah penumpang di Bandara Internasional Minangkabau mencapai 2,4 juta. Jumlah itu lebih tinggi dibanding capaian 2025 sebanyak 2,37 juta penumpang/tahun, namun masih lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum pandemi COVID-19 pada 2019 yang mencapai 3 juta penumpang/tahun."Karena ada beberapa faktor geopolitik ini kan tidak kita perkirakan. Seharusnya kita targetnya sih 2,5 juta penumpang kemarin, tetapi karena ada faktor-faktor lain ini yang tentu membuat kita harus realistis," imbuh Dony."Kita akan optimistis di tahun 2028 kita sudah bisa mencapai (penumpang seperti) 2019 lagi," tambahnya









