KETEGANGAN militer di Teluk Persia kembali ke titik kritis. Fragmen gencatan senjata yang sempat diupayakan sejak April 2026 lalu, kini praktis runtuh setelah serangkaian aksi saling balas yang melibatkan kekuatan militer Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Eskalasi terbaru ini dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS yang ditembak jatuh oleh pasukan Iran di Selat Hormuz.

Komando Sentral AS (CENTCOM) langsung merespons dengan meluncurkan serangan udara balasan ke berbagai fasilitas radar komunikasi dan pertahanan udara Iran, yang segera dijawab Teheran secara asimetris dengan membombardir lima pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, termasuk markas besar Armada Kelima AS di Bahrain.Di tengah spiral kekerasan yang tidak terkendali ini, Presiden AS Donald Trump mengambil langkah ekstrem dengan melayangkan ancaman perang baru yang sangat provokatif.

Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyatakan bahwa militer AS akan menyerang Iran secara luar biasa keras dan berniat mengasumsikan kendali penuh atas industri minyak dan gas Iran, termasuk menduduki Pulau Kharg.

Ia bahkan secara eksplisit menyamakan rencana pendudukan militer ini dengan keberhasilan “Operation Absolute Resolve” di Venezuela awal tahun ini, di mana AS mengambil alih kontrol sektor minyak negara tersebut pasca-penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.