DI SETIAP zaman, jalanan selalu memiliki cara berbicaranya sendiri. Ketika ruang-ruang formal kehilangan daya dengar, ketika kritik dianggap gangguan, ketika aspirasi masyarakat lebih sering dipersepsikan sebagai ancaman daripada masukan, maka jalanan menjadi medium yang dipilih warga untuk menyampaikan kegelisahan mereka.
Demonstrasi, aksi solidaritas, gerakan mahasiswa, protes buruh, hingga berbagai bentuk mobilisasi sosial pada hakikatnya bukan sekadar ekspresi kemarahan.
Ia merupakan gejala sosial yang menunjukkan bahwa terdapat persoalan yang belum terselesaikan dalam hubungan antara negara dan masyarakat.Sayangnya, dalam banyak kesempatan, gerakan sosial di jalanan sering kali dibaca secara dangkal. Fokus perhatian lebih banyak diarahkan pada kemacetan yang ditimbulkan, kerumunan yang terbentuk, atau potensi gangguan keamanan yang mungkin muncul.
Padahal, yang jauh lebih penting adalah memahami pesan yang sedang dibawa oleh mereka yang turun ke jalan. Jalanan bukan sumber masalah. Jalanan adalah cermin yang memantulkan masalah yang sesungguhnya.
Dalam perspektif demokrasi, gerakan sosial merupakan salah satu mekanisme koreksi terhadap kekuasaan.















