JUMAT, 19 Juni 2026, menjadi hari yang patut dicatat dalam relasi DPR dan masyarakat sipil.
Bukan karena ada sidang istimewa atau pengesahan undang-undang besar, melainkan karena pintu Gedung Nusantara—gedung "kura-kura" yang selama ini identik dengan eksklusivitas—dibuka untuk menerima aspirasi ribuan mahasiswa yang berunjuk rasa di kompleks parlemen, Senayan.Aksi yang digerakkan mahasiswa Universitas Trisakti, Universitas Mercu Buana, Universitas Esa Unggul, dan PB HMI-MPO ini mengusung tajuk Tritura—Tiga Tuntutan Rakyat.
Sore itu, setelah berjam-jam berorasi di depan gerbang utama, sekitar 50 lebih perwakilan mahasiswa diterima dalam audiensi tertutup di Ruang Abdul Muis.
Yang menyambut bukan pejabat kelas dua: Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Saan Mustopa hadir langsung, didampingi Ketua Komisi III Habiburokhman, Wakil Ketua Komisi III Rano Alfath, dan Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan Nazaruddin Dek Gam.
Materi yang dibahas tidak ringan: kelangkaan BBM bersubsidi dan kenaikan harga Pertamax, evaluasi total Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN), kesejahteraan guru dan dosen, penyempitan ruang masyarakat sipil, hingga lnkompetensi komunikasi publik pejabat negara.













