PADA Rabu pagi, 10 Juni 2026, jutaan warga kelas menengah Indonesia kaget dengan informasi harga Pertamax melonjak dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Harga ini naik hampir Rp 4.000, atau sekitar 32 persen, dalam semalam.

Penjelasan resminya teknokratis belaka, penyesuaian formula harga mengikuti pergerakan minyak dunia.

Namun, di balik bahasa formula itu bersembunyi pertanyaan filosofis yang jauh lebih tua daripada Pertamina, kepada siapa sesungguhnya beban republik ini dipikulkan dan untuk siapa hasilnya dinikmati?Sosiolog fiskal Rudolf Goldscheid pernah menulis bahwa anggaran adalah “kerangka negara yang telanjang dari segala ideologi yang menyesatkan”.

Joseph Schumpeter melanjutkannya dalam Die Krise des Steuerstaats (1918): watak sejati sebuah negara terbaca bukan dari pidato-pidatonya, melainkan dari siapa yang ia pajaki dan untuk apa uang itu dibelanjakan. Maka, mari kita baca kerangka APBN kita dengan jujur.

Lebih dari 80 persen pendapatan negara hari ini bersumber dari perpajakan. Dalam APBN 2026, dari target pendapatan Rp 3.153,6 triliun, penerimaan pajak dipatok Rp 2.357,7 triliun, belum termasuk kepabeanan dan cukai.