SETELAH kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump ke Beijing pada 13-15 Mei lalu, China semakin memiliki daya tarik geopolitik yang diperhitungkan.
Apalagi, setelah Presiden Trump menempatkan China sebagai negara ‘’super power’’, rival utama AS yang sejajar Uni Soviet dalam era perang dingin.Sejumlah negara yang selama ini bersama-sama menghadapi tekanan Amerika Serikat sebagai poros perlawanan sebut misalnya ; Rusia, Korea Utara plus Iran saling mendekat di bawah kekuatan magnet geopolitik China, era Xi Jinping.
Selang beberapa hari setelah kunjungan Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Beijing bertemu Xi Jinping pada 20 Mei 2026.
Dua pekan berlalu, giliran Presiden Xi Jinping berkunjung ke Pyongyang untuk bertemu Kim Jong Un.
Banyak media menyoroti kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang sebagai kunjungan strategis konsolidatif.








