KUNJUNGAN Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, hari ini ke Beijing untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menjadi penanda bahwa AS tidak sekuat dan semegah yang dicitrakan selama ini.

Trump datang dengan langkah yang terseok-seok ke Beijing setelah mendapatkan tekanan yang luar biasa dari Kongres AS yang menuntut pertanggungjawaban atas perang yang dikobar di Iran, dana 29 miliar dolar AS hasil pajak rakyat AS yang terbakar sia-sia, serta ancaman menipisnya jumlah stok persenjataan AS.Pernyataan Trump yang mengiringi lawatannya ke Beijing bahwasanya AS siap menjatuhkan bom nuklir untuk mengakhiri perang di Iran, serta AS tidak butuh Tiongkok untuk melobi Iran adalah pernyataan-pernyataan yang bukan saja bersifat ambivalen.

Namun secara asertif, menjadi penegas bahwa diplomasi yang ia lakukan ke Beijing tak lebih dari sekadar diplomasi bebek lumpuh.

Di tengah manipulasi dan kamuflase politik yang dijalankan Trump di media-media, Trump sejatinya sedang sekarat dengan kebijakannya sendiri.

Apa yang dilakukan Trump selama dua bulan lamanya di Iran jauh lebih buruk dibandingkan dengan kebijakan agresi AS ke Afghanistan dan Irak pada era George W. Bush Jr.