PADA 3 Juni 2026, gelombang drone dan rudal Iran menghantam Terminal 1 Bandar Udara Internasional Kuwait, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya, sekaligus memaksa penutupan ruang udara negara kecil itu.

Kuwait merespons dengan mengusir dua diplomat Iran dan memberi mereka tenggat 24 jam untuk angkat kaki (The Jerusalem Post, 2026).

Peristiwa itu bukan letupan tunggal, melainkan satu mata rantai dari perang regional yang meletus sejak akhir Februari 2026, ketika serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel atas Iran disambut kampanye balasan Teheran ke setiap negara Teluk yang menampung pangkalan militer Washington.Pertanyaannya kemudian menjadi rumit. Dalam pusaran ini, siapa sebenarnya yang mengancam dan siapa yang terancam?

Lingkaran Pengepungan dan Logika Pembalasan

Sejak operasi Iran bertajuk “True Promise IV” dilancarkan pada akhir Februari, peta serangan memperlihatkan pola yang konsisten.