Penulis: Nik Martin/DW Indonesia
KOMPAS.com - Saat perang Iran memasuki hari ke-100 pada Minggu (7/6/2026), sebuah asumsi yang menenangkan, tetapi keliru, telah mengakar.Banyak pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan investor meyakini bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz secara cepat akan langsung menurunkan harga energi, begitu tanker minyak dan gas yang selama ini terjebak akhirnya bisa keluar dari Teluk.
Namun, para petinggi perusahaan minyak, pemimpin sektor pelayaran, dan ekonom justru memprediksi sebaliknya.
Baca juga: AS Tembakkan Rudal Hellfire ke Kapal yang Terobos Selat Hormuz, Tujuan ke Iran
Mereka mengingatkan bahwa perdamaian tidak akan serta-merta mengembalikan pasar energi dan rantai pasok global ke kondisi normal. Menurut mereka, dampaknya bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ke depan.








