DI TENGAH kemelut perang Iran, ada satu negara yang tepat berada di tengah pusaran konflik yang secara sadar memilih diam. Saat drone, rudal, dan jet tempur berseliweran di atas langitnya, negara ini juga tak bersuara. Negara ini adalah Oman.

Wilayah eksklavenya, Musandam, ada di sisi selatan Selat Hormuz, perairan sempit yang sangat penting bagi urat nadi energi dunia, yang saat ini masih ditutup Iran sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai perang pada 28 Februari.

Tak jauh dari situ, kekuatan Angkatan Laut AS berhimpun dan menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran di Teluk Oman.Di tengah pusaran konflik yang membuat harga minyak melambung dan perekonomian dunia karut marut ini, Muscat tampak memilih lebih banyak diam.

Pada awal April, alias ketika perang berlangsung selama sebulan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa masa depan Selat Hormuz akan diputuskan bersama oleh negaranya dan Oman setelah perang berakhir.

Iran berniat mengelola selat bagi 20 persen minyak dan gas alam cair dunia tersebut bersama Oman, dan menarik tarif tol bagi kapal yang melintas.