DI BAWAH bayang-bayang teokrasi Syiah sejak revolusi 1979, Republik Islam Iran selalu mempertahankan ilusi dualisme kekuasaan yang unik bahwa otoritas spiritual mutlak di tangan Pemimpin Agung (Velayat-e Faqih) di satu sisi, dan mandat elektoral sipil di tangan seorang presiden di sisi lain.
Namun, badai politik yang melanda Teheran hari-hari ini menunjukkan bahwa keseimbangan yang sebenarnya cukup rapuh itu telah mendekati titik nadirnya.
Kebocoran surat pengunduran diri Presiden Masoud Pezeshkian pada 31 Mei 2026, menjadi lonceng peringatan bagi eksperimen pemerintahan sipil di tengah kecamuk perang.Meskipun media-media resmi pemerintah Iran seperti Tasnim dan para pejabat kepresidenan buru-buru menepis laporan tersebut sebagai propaganda "operasi psikologis" yang dirancang oleh dinas intelijen asing, realitas di lapangan tidak bisa disembunyikan.
Teheran sedang mengalami keretakan struktural terdalam dalam sejarah modernnya, di mana junta militer informal kini telah sepenuhnya mengambil alih kemudi negara.
Surat pengunduran diri Pezeshkian, yang ditujukan kepada kantor Pemimpin Agung Mojtaba Khamenei, ditulis dengan nada yang luar biasa tajam dan kritis.









