Johor Bahru -
Puluhan ribu orang terpaksa menghadapi antrean panjang di pos pemeriksaan imigrasi di seluruh Malaysia, termasuk di perbatasan darat Johor dengan Singapura. Penumpukan ini terjadi imbas sistem digital gangguan selama lima jam.Dilansir Channel News Asia, Jumat (29/6/2026), media lokal The Star melaporkan gangguan ini memaksa petugas imigrasi untuk memproses warga Malaysia dan wisatawan asing secara manual. Semua sistem berbasis komputer mati antara pukul 4.30 pagi hingga 9.30, Kamis (28/6) waktu setempat.Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri mengatakan kepada The Star bahwa antrean panjang dilaporkan di kedua pos pemeriksaan darat Johor. Antrean terjadi saat 'jam sibuk' bagi puluhan ribu warga Malaysia yang bergegas ke Singapura untuk bekerja.
"Kami harus mengerahkan kembali semua personel kami untuk mengoperasikan loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan kendaraan," kata pejabat tersebut."Tidak hanya gerbang otomatis kami yang mati, bahkan sistem pengenalan wajah kami pun juga tidak berfungsi," tambahnya. Gangguan ini merupakan kerusakan sistem imigrasi besar kedua dalam waktu kurang lebih satu bulan di Malaysia. Insiden serupa menyebabkan ribuan pelancong terlantar selama sekitar dua jam pada 23 April lalu.Gangguan pada Kamis pagi tersebut mempengaruhi sebagian besar dari 114 pos pemeriksaan imigrasi Malaysia di seluruh negeri. Pemerintah pengerahan personel keamanan tambahan untuk menjaga ketertiban.Malaysia memiliki total 56 titik masuk melalui laut, 30 melalui darat, dan 28 bandara.Meskipun banyak pelancong mengatakan gangguan dimulai pukul 4.30 pagi, Direktur Jenderal Departemen Imigrasi Malaysia Zakaria Shaaban mengatakan insiden tersebut terjadi sekitar pukul 5 pagi dan berlangsung hingga pukul 8.45 pagi. Gangguan ini karena masalah teknis dengan pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs)."Sistem tersebut kembali online setelah pekerjaan perbaikan dilakukan. Sistem tersebut tidak diretas. Sistem MyIMMs sudah berusia 30 tahun. Masalah pasti akan terjadi," demikian kutipan pernyataannya yang dimuat oleh The Star.Sistem tersebut diharapkan akan digantikan oleh Sistem Imigrasi Terpadu Nasional (NIISe) pada tahun 2028. Platform imigrasi digital baru ini, yang dirancang untuk memodernisasi kontrol perbatasan, bertujuan untuk mengintegrasikan verifikasi paspor, pemeriksaan visa, dan data pelancong ke dalam satu platform.Menurut Zakaria, gangguan seperti itu mungkin akan terjadi lagi hingga sistem NIISe beroperasi penuh."Kami akan bertahan hingga sistem NIISe siap," katanya, seperti dikutip oleh media lokal.











