Beijing -
Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi negara tetangganya, China, untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping. Pertemuan kedua kepala negara menghasilkan pandangan dunia yang semakin rapuh dan tak stabil karena dinilai menuju hukum rimba.Putin tiba di Negeri Tirai Bambu pada Rabu (20/5) pagi waktu setempat, dan langsung menggelar pembicaraan dengan Xi di Great Hall of the People sebelum menyampaikan pernyataan kepada media.Pada malam harinya, Xi akan menggelar jamuan kenegaraan untuk menandai 25 tahun perjanjian persahabatan bilateral kedua negara. Kedua pemimpin juga akan mengunjungi pameran foto yang memperingati 70 tahun kerja sama kantor berita negara Rusia TASS dan kantor berita Cina Xinhua. Kunjungan ditutup dengan pertemuan antara Putin dan Xi dalam acara minum teh bersama. Menurut penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, pembicaraan tersebut akan berfokus pada berbagai hal, seperti konflik Iran, perang Ukraina, serta berbagai isu internasional utama lainnya. Peringatkan Dunia Menuju 'Hukum Rimba'Dalam deklarasi bersama yang dirilis Kremlin setelah pertemuan Putin dan Xi Jinping di Beijing, kedua negara menilai stabilitas internasional semakin rapuh dan tatanan global menghadapi risiko baru.Mereka menyatakan bahwa situasi global menjadi semakin kompleks, sementara agenda perdamaian dan pembangunan dunia menghadapi tantangan serius. Rusia dan Cina juga menilai terdapat bahaya bahwa komunitas internasional akan terpecah dan kembali pada pola hubungan internasional berbasis kekuatan semata atau "law of the jungle".













