Jakarta - Sebanyak tiga kapal tanker super berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (20/5) kemarin. Kapal-kapal ini membawa minyak yang akan diekspor ke Asia.Mengutip Reuters, Kamis (21/5/2026), tiga kapal ini memuat 6 juta barel minyak mentah Timur Tengah. Kapal tanker ini tertahan di Teluk lebih dari dua bulan.Berdasarkan data LSEG dan Kpler, terdapat satu kapal tanker yang saat ini memasuki Selat Hormuz. Dengan begitu, jumlah kapal tanker yang berhasil melintasi Selat Hormuz melalui jalur transit terus bertambah.
Sebagai informasi, perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran berlangsung sejak 28 Februari. Penutupan Selat Hormuz menjadi bagian dari langkah Iran dalam upaya menekan AS-Israel.Berdasarkan data pelayaran terbaru, terdapat kapal tanker minyak mentah super besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) berbendera Korea Selatan, Universal Winner, yang keluar dari Selat Hormus setelah dua kapal tanker asal China berangkat pada Rabu.Kapal tersebut mengangkut 2 juta barel minyak mentah asal Kuwait yang dimuat pada 4 Maret lalu. Berdasarkan data Kpler, kapal tanker itu menuju Ulsan, lokasi kilang minyak terbesar Korea Selatan milik SK Energy, untuk membongkar muatan pada 9 Juni mendatang.Pihak SK Energy menolak memberikan komentar. Sementara itu, juru bicara HMM selaku pemilik dan operator VLCC Universal Winner belum dapat dihubungi untuk dimintai tanggapan.Sebagai informasi, rata-rata lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz mencapai 125 hingga 140 pelayaran per hari sebelum terjadinya perang. Kemudian untuk lalu lintas pengiriman rata-rata mencapai 10 kapal yang keluar-masuk bermuatan kargo, bahan kimia, dan minyak bumi cair.Berdasarkan Pusat Informasi Maritim Gabungan, terdapat sekitar 10 kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Kapal tersebut termasuk kapal kargo kecil dan kapal tanker kimia yang memasuki Teluk.Meski begitu, pelayaran di Selat Hormuz disebut masih sangat berisiko. Pasalnya masih terdapat tindak agresif yang dilakukan oleh Iran."Lingkungan operasi tetap berisiko tinggi berdasarkan serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal di area tersebut. Beberapa contoh penyapaan agresif dan tindakan tegas oleh unit-unit Iran telah tercatat dalam 48 jam terakhir,," kata Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS.











