DI RUANG paripurna yang sejuk dan agung, kita disuguhi tontonan politik yang begitu anggun.

Presiden Prabowo Subianto, dengan retorika yang tertata, mengucapkan terima kasih kepada PDIP atas "pengorbanannya" memilih jalan oposisi.Sebuah pepatah kuno dikutip tentang bagaimana kritik adalah juru selamat.

Dari podium itu, wajah demokrasi kita tampak begitu matang, toleran, dan penuh kompromi elitis yang menenangkan.

Puja-puji yang dialamatkan kepada partai berlambang banteng tersebut seolah ingin menegaskan bahwa kekuasaan hari ini sangat menghargai perbedaan sikap.

Namun, ketika menegok ke luar gedung parlemen, realitas yang kita temui justru berwajah bopeng.