KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengeras dalam beberapa bulan terakhir.

Meski tidak pernah diumumkan sebagai perang terbuka, rangkaian insiden militer terbatas, serangan terhadap aset dan pangkalan, serta aktivitas kelompok proksi di berbagai titik Timur Tengah memperlihatkan bahwa kedua negara sedang berada dalam situasi konflik yang nyata.

Dari Laut Merah hingga Irak dan Suriah, eskalasi ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga kepentingan global, terutama terkait jalur energi.Blokade laut oleh armada AS di Teluk Oman, tetap berjaga-jaga sebagai bagian dari strategi deterrence.

Sementara itu, Iran terus mempertahankan pendekatan asimetris melalui jaringan proxy-nya di beberapa negara di kawasan.

Pola ini mencerminkan keseimbangan yang rapuh: kedua pihak sama-sama menghindari perang besar, tetapi tetap mempertahankan tekanan.