Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Teheran tidak akan mentolerir pelanggaran MoU oleh Amerika Serikat.

Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat mengakhiri perang. Ternyata, kesepakatan itu hampir gagal gara-gara ulah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan, mengakhiri perang di Lebanon adalah isu terpenting dalam kesepakatan damai dengan AS.

Draft perjanjian damai AS-Iran hingga kini masih belum dirilis oleh kedua pihak. Berikut sejumlah tanda tanya mengenai kesepakatan itu.

Di jalan-jalan Teheran, kesepakatan damai AS-Iran tidak banyak menumbuhkan kepercayaan bahwa krisis telah berakhir.

Teks kesepakatan damai atau MoU (Memorandum of Understanding) antara Iran dan AS belum dipublikasikan. Wakil Presiden AS JD Vance mengungkap alasannya.

Abbas Araghchi mengatakan bahwa dalam hal negosiasi, Washington dan Tel Aviv adalah satu dan sama.

Iran menilai bahwa kesepakatan damai AS-Iran merupakan bukti kegagalan Washington.

AS merilis teks MoU untuk mengakhiri perang di Iran yang berisi 14 poin, mencakup pembukaan Selat Hormuz hingga pembatasan nuklir Iran.

Trump menuturkan, penandatanganan kesekapatan AS-Iran bukan perkara mudah. Ia sempat berhenti sejenak sebelum membubukan pena.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan memorandum ditandatangani dalam Bahasa Inggris dan Farisi.

Meski mengaku memiliki pandangan berbeda, Mojtaba tetap memberikan restu terhadap kesepakatan AS-Iran.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Teheran tidak akan mentolerir pelanggaran MoU oleh Amerika Serikat.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menyebut kesepakatan damai tak lepas dari keputusasaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.