Jakarta -
"Saya harus tetap sombong."Kalimat itu mungkin terdengar janggal keluar dari mulut seorang Menteri Keuangan. Namun bagi Purbaya Yudhi Sadewa, itu justru bagian dari strategi.Ketika pertama kali menduduki kursi Menteri Keuangan, ia melihat pesimisme begitu kuat membayangi perekonomian. Maka, alih-alih tampil dengan wajah lesu, Purbaya memilih berbicara dengan penuh keyakinan-meski konsekuensinya ia dicap sombong dan bergaya 'koboi'.
Setahun kemudian, Purbaya menilai pilihannya mulai membuahkan hasil. Ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 5% di tengah berbagai gejolak global. Namun targetnya jauh lebih tinggi. Ia ingin Indonesia mampu tumbuh 6%, 7%, bahkan menuju 8% demi menciptakan lapangan kerja formal yang lebih banyak dan mengembalikan pertumbuhan kelas menengah.Bukan hanya soal pertumbuhan, Purbaya juga bicara mengenai pekerjaan rumah di sektor riil, strategi meningkatkan penerimaan tanpa menaikkan tarif pajak, kesinambungan fiskal, hingga pengalihan utang kereta cepat Whoosh ke bawah pengelolaan Kementerian Keuangan.Dalam wawancara khusus bersama detikcom bertepatan dengan satu tahun dirinya menjabat Menteri Keuangan, Purbaya membuka banyak hal. Mulai dari strategi di balik gaya komunikasinya yang kontroversial, keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia bisa melaju lebih kencang, sampai cerita soal apa yang akan dilakukannya setelah pensiun dari kursi Menteri Keuangan.Berikut petikan wawancaranya:Apa kabar, Pak Purbaya?Baik.Walaupun asap-asap gini banyak, aman ya, Pak?Alhamdulillah, asapnya mulai reda. Yang penting 'kan ekonominya mulai naik terus ke depan. Itu yang paling baik.Itu harapan seluruh masyarakat Indonesia, Pak.Sudah terjadi, harapannya ke depan semakin lebih cepat lagi.Satu tahun Pak Purbaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, kalau boleh refleksi sedikit atau flashback sedikit, momen ketika Bapak dilantik, itu begitu banyak dinamika. Tapi cepat sekali juga membalikkan keadaan saat itu. Di kala orang-orang mungkin pesimistis saat itu, kemudian Pak Purbaya datang dengan segala macam pernyataan dan juga gaya 'koboi'-nya. Tapi kemudian publik berhasil ditarik simpatinya saat itu. Boleh cerita kembali rasa-rasanya ketika momen itu?Oh, yang pertama saya senang sekali, setahun selamat. Tidak tahu setahun ke depan bagaimana, tapi challenge atau tantangan masih akan ada lagi, saya pikir.Ekonomi dunia amat dinamis, sekarang juga amat dinamis domestiknya juga. Jadi, ketika saya jadi Menteri Keuangan ya kaget. Saya pikir waktu saya dipanggil ke Hambalang sehari sebelumnya, Pak Presiden Prabowo mungkin memberikan sinyal. Mungkin akan ada (dari) Kementerian Keuangan, posisinya. Tapi 'kan saya biasa begitu, calon abadi, calon terus nggak pernah jadi-jadi. Jadi saya pikir, dia 'main-main', ya sudah saya santai saja pulang.Tahu-tahu hari Senin dipanggil jam 11.00 WIB, 'kamu ke istana'. Ke istana untuk acara jam 15.00 WIB atau jam 14.00 WIB. Jam 14.00 WIB ke istana. Bawa Peci sama ini, ya. Berarti ada pelantikan, jadi apa? Saya jadi apa? Ya nggak tahu, datang aja.Saya datang ke sana, baru tahu jadi Menteri Keuangan pada waktu rehearsal terakhir, gladi resik terakhir. Wah, saya Menteri Keuangan nih, seru juga nih saya pikir. Tapi, hari pertama saya salah ngomong di luar 'kan. Orang maki-maki semuanya. Sehari berikutnya saya minta maaf.Tapi yang penting gini. Waktu itu semuanya amat pesimistis. Jadi, kita mesti mengembalikan optimisme ke ekonomi. Karena di ekonomi tadi yang disebut economic self-fulfilling prophecy. Jadi kalau kita berharap ekonominya bagus, biasanya ekonominya akan bagus, kenapa? Karena semua ekspansi bisnis, orang mau belanja karena nggak takut. Tapi, kalau orang mikir ekonominya akan jelek, ya semuanya, ekonominya akan melambat terus, kenapa? Bisnis pun takut ekspansi, orang juga takut belanja, ekonominya turun ke bawah, terus spiral down ke bawah. Yang pertama kita lakukan waktu itu yaitu menciptakan optimisme ke publik.Yang pertama, 'kan belum bergerak nih kebijakannya. Ya dengan ngomong, sebagian menganggap itu koboi atau sombong, padahal tidak. Itu memang sengaja didesain untuk menciptakan optimisme di masyarakat.Untung setelah debat dengan DPR, berapa hari kemudian, masyarakat agak yakin bahwa saya kelihatannya bisa lah. Jadi optimisme mulai dari situ. Habis itu hari berikutnya, dua hari berikutnya saya inject ke uang ke sistem. Itu kebijakan yang real, yang sebelumnya adalah effort untuk menciptakan optimisme di kalangan masyarakat, walaupun korbannya saya dianggap sombong, tapi enggak apa-apa. Kita harus seperti itu untuk menciptakan optimisme.Kan enggak mungkin saya menciptakan optimisme dengan muka lesu. Ekonominya akan tumbuh 8%, tidak mungkin 'kan. Saya harus mikir gini, nih. Saya bisa, baru orang percaya. Terus diujinya di sana, di DPR.Habis itu, 2 hari kemudian saya inject uang ke sistem. Itu yang membuat likuiditas ekonominya bertambah dengan signifikan dan siap untuk membiayai pertumbuhan ekonominya. Akibatnya 'kan terutama yang keempat, ekonominya tumbuh tiba-tiba dari di bawah 5% ke 5,39%. Triwulan I-2026 (pertumbuhan ekonominya) 5,61%. Triwulan ke-II kemudian agak melambat sedikit, 5,29%.Tapi karena saya pikir dengan kebijakan yang lebih sinkron antara kami dengan Bank Sentral, harusnya ruang untuk pertumbuhan ekonominya lebih cepat semakin terbuka lebar. Jadi, itu hal yang saya sadari adalah ketika saya ngomong sombong, orang banyak yang benci. Tapi enggak apa-apa, itu memang desain untuk mempengaruhi sentimen masyarakat, ekspresi ke publik.Nah, setelah itu juga kan nggak gampang juga. Saya inject uang ke sistem, udah jalan, keluar lah MSCI. Jederrr, semua jatuh. Terus dibereskan oleh Pak Presiden, Bursa segala macam, OJK segala macam. Aman lagi.Habis itu keluar lagi Moodys, Fitch. Habis itu S&P. S&P walaupun stabil, tapi 'kan awal Juni kalau nggak salah itu, bocorannya adalah S&P akan men-downgrade bursa saham Indonesia ke frontier level. Padahal S&P nggak pernah ngomong begitu. Jadi pertempuran positif, penciptaan positive sentiment, ditekan ke bawah oleh orang-orang yang ingin kita jelek dengan bocoran, membuat berita-berita negatif.Walaupun begitu saya harus tetap sombong, harus menciptakan bahwa kita bagus, fondasinya kita bagus, karena kebijakan kita memang pas. Kebijakan Pak Presiden Prabowo pas. Hanya kelihatan kan walaupun ada gejolak perang Iran. Ada harga minyak tinggi, ada macam-macam. Kita tetap stabil, steady, tumbuhnya membaik dan bertahan di atas 5% dengan cukup signifikan. Di triwulan pertama tahun ini 'kan kita masih tumbuh 5,45%. Itu tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Jadi kita lumayan.Jadi, gampang-gampang susah. Tapi saya yakin orang-orang kita pintar. Asal dikasih ruang untuk tumbuh, kita bisa tumbuh, bisnis dan lain-lain yang mengakibatkan ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Ke depan saya yakin kita akan tumbuh lebih cepat lagi. Saya boleh nggak ngomong begitu? Boleh ya? Itu kan rahasia. Jurus rahasia dikeluarkan.Berarti menurut Bapak, menggunakan pendekatan bahwa membangun kepercayaan publik itu juga bagian dari membangun ekonomi? Bukan cuma dari sisi kebijakan saja?Bukan. Jadi, kalau ingin melihat dampaknya lebih maksimal, lebih optimal, ya kita harus menciptakan persepsi juga untuk mendukung kebijakan yang kita buat. Jadi, bukan berarti kebijakan yang bagus kalau bagus hasilnya akan jelek. Bukan. Tapi, dengan penciptaan persepsi tadi pencapaiannya akan lebih cepat dari yang kalau cuma kebijakan aja. Jadi, itu yang membuat tadi, tiba-tiba orang suka saya. Karena setelah saya rayu dengan ucapan saya, yang kata orang koboi, itu by design.Bapak suka dengan sebutan koboi itu?Menurut saya sama aja. Suka ya suka, nggak apa-apalah. Emangnya mau gue tembak? Emang fun, nggak apa-apa 'kan. Lebih baik kita ngomong apa adanya, tapi kebijakannya baik dan sopan. Untuk kemakmuran masyarakat.Tapi refleksinya setelah setahun menjabat begitu, ada nggak yang mungkin nggak sesuai ekspektasi ternyata, ya? Sesulit ini ternyata, ya? Ada yang bisa diceritakan soal itu? Atau justru ternyata sebaliknya?Kalau desainnya sesuai dengan yang saya inginkan waktu itu, dengan Pak Presiden inginkan, harusnya kita sudah tumbuh lebih cepat. Mungkin sekarang udah sekitar kisaran 6%. Cuma ada gejolak global, yang memberikan halangan tambahan buat ekonomi kita. Itu pun harusnya bisa dikendalikan. Cuma ada beberapa lini di ekonomi kita yang belum bekerja dengan baik. Baik di sisi kebijakan maupun di sisi implementasi.Di mana saja dari catatan Kementerian Keuangan yang mungkin harus lebih digenjot atau jadi prioritas ke depan?Yang prioritas ke depan mungkin saya dengan Bank Sentral harus lebih dekat lagi. Supaya kita bisa sama-sama mendorong ekonomi. Satu mesin akan lebih susah mendorong dibandingkan dengan dua mesin ekonomi. Jadi, ke depan itu akan kita usahakan. Gubernur Bank Sentral yang baru juga bilang seperti itu. Jadi saya pikir dengan sinergi yang lebih baik, harusnya ekonomi akan lebih baik ke depannya.Yang kedua, sektor riil kita, sektor yang non-government, itu kontribusinya lebih dari 90% ke ekonomi. Termasuk belanja masyarakat segala macam. Itu harus dijaga lebih baik pertumbuhannya ke depan. Kemarin saya kebanyakan fokus ke program pemerintah saja. Sekarang akan dobel, itu dan yang di luar pemerintah akan kita perhatikan supaya ekonomi bisa tumbuh lebih cepat. Itu termasuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor manufacturing dan sektor-sektor lain di luar sektor pemerintahan.Jadi akan lebih banyak insentif maksudnya di sektor-sektor itu?Tidak, habis lah duit insentif melulu. Kita akan kasih kebijakan dan ruang bagi mereka untuk tumbuh lebih cepat. Jadi bukan saya kasih duit aja. Saya misalnya ada hambatan bisnis, saya hilangkan hambatannya. Kalau perlu akses ke bunga rendah, kita coba ciptakan sistem di mana ada institusi yang memberi bunga yang lebih rendah dibanding yang ada saat ini.Karena kalau kita sekarang bersaing langsung bukan dalam negeri aja. Langsung head to head dengan perusahaan di luar negeri sana. Baik di pasar sana maupun di pasar sini. Jadi, kita akan menciptakan suasana yang lebih favorable untuk para pemain domestik. Kemarin saya belum masuk ke sana secara terlalu signifikan. Mungkin ke depan dengan kerja sama dengan bank sentral, kita akan coba ciptakan suasana yang lebih bagus lagi.Termasuk mendorong sektor riil agar lebih banyak penyerapan tenaga kerja yang saat ini mungkin dirasa masyarakat, 'ah ekonomi tumbuhnya 5,6%, 5,4%, tapi nggak berasa'?Begini, harusnya kalau hitungan teoritis menurut angka-angka BPS, ada yang namanya coefficient technique tenaga kerja, di mana 1% pertumbuhan ekonomi menciptakan 400 ribu tenaga kerja. Sedangkan usia orang-orang kita yang masih usia kerja setiap tahun itu ada antara 2,5 juta sampai 3 juta orang. Itu memerlukan pertumbuhan 6,5% sampai 7%.Setelah krisis, kita tidak pernah tumbuh 7%. Jadi makanya saya setuju dengan Pak Prabowo, saya akan mencoba membantu Pak Prabowo semaksimal mungkin mempercepat pertumbuhan ekonomi ke arah 8%. Kalau tidak 8%, menurut saya tahun depan 6%, tahun berikutnya 7%, sudah cukup bagus. Tujuannya apa? Untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi orang-orang yang masuk ke usia kerja. Sehingga orang-orang itu bekerja di lapangan kerja yang formal, bukan informal.Sekarang banyak informal. Kalau informal kan sarjana yang baru lulus mana mau kerja informal langsung. Dia pas cari yang formal. Begitu tidak dapat, kemana-mana baru ke informal. Tapi itu karena memang ekonomi kita tidak tumbuh lebih cepat dengan struktur yang sekarang.Kita harus tumbuh di atas 6,5% minimum, baru menyerap orang yang masih ke usia kerja. Belum mengurangi pengangguran yang di sektor informal itu.Saya bilang tenaga kerja yang di informal biar masuk ke formal, pengangguran bukan itu? Ya, bukan pengangguran, tapi bukan kerja di sektor formal. Itu saja yang menyebabkan kalau di sektor non-formal itu, kesejahteraannya tidak setinggi yang di formal.Jadi, itu yang harus kita ciptakan ke depan. Pertumbuhan ekonomi lebih cepat yang mendorong pada akhirnya lapangan kerja formal lebih banyak, sehingga kelas menengah kita juga akan tumbuh lagi.Sekarang sejak krisis 1998, belum pernah kita tumbuh di atas 6,5%. Belum kayaknya. Secara rata-rata juga, di bawah itu. Jadi, kita akan dorong ke atas untuk menciptakan keadaan di mana orang bisa mencari kerja di sektor kerja formal. Jadi, ketika Pak Prabowo bilang 8% jangan diledekin, itu emang betul arahnya. Malah kita kurang.It's very possible?It's very possible. Kalau Anda lihat kan di zaman Pak SBY kita tumbuh 6% on average ya. Engine-nya cuma satu, bukan pemerintah. Dia tidak bangun infrastruktur di mana-mana 'kan. Tapi private and non-government sector yang tumbuh. Karena kredit tumbuh 22% on average pada waktu itu selama 10 tahun.Zamannya Pak Jokowi bangun infrastruktur di mana-mana, tapi non-government sector-nya atau private itu tumbuhnya lemah karena pertumbuhan kredit cuma 7% on average. Jadi selama 20 tahun terakhir, engine of growth kita tidak seimbang. Pincang. Yang pertama cuma private, yang di sini cuma government. Sekarang kita gabung dua-duanya. Saya harapkan dengan itu 6%, tambah satu sedikit dari pemerintah.Harusnya 6,5% itu nggak sulit kalau kita jalankan dua mesin itu. Nanti kalau kita perbaiki iklim investasi dan lain-lain, 7%-8%, itu baru bisa tercipta.






