Kathmandu -
Jumlah korban tewas di Nepal meningkat menjadi 547 orang, kata para pejabat, lebih dari 48 jam setelah banjir bandang menghancurkan wilayah perbatasan Himalaya.Seorang pekerja kemanusiaan mengatakan kepada BBC bahwa situasi di Nepal saat ini "kacau", namun ia meyakini masih ada harapan bahwa mereka yang masih hilang "dapat ditemukan dalam keadaan hidup".Pemerintah Nepal telah merilis nama 500 warga negara asing yang dilaporkan hilang, termasuk 178 warga India, 65 warga Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris.
Di Tibet, lima orang dilaporkan tewas dan lebih dari 558 orang masih hilang, menurut media pemerintah China.Belum jelas apakah data terbaru tersebut mencakup orang-orang yang juga tercatat dalam laporan Nepal. Sementara itu, otoritas China telah melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan di dekat perbatasan Nepal-Tibet, menurut media pemerintah.Sebelumnya, operasi sempat dihentikan karena kekhawatiran sebuah danau baru yang terbentuk akibat naiknya permukaan air dapat meluap dan menyebabkan banjir lebih lanjut.Puluhan ribu wisatawan mengunjungi kawasan itu setiap tahun.BBC telah berbicara dengan sejumlah kerabat orang-orang yang masih hilang.Dua orang bersaudara yang orang tuanya belum ditemukan mengatakan, "Kami sangat menyayangi mereka dan ingin mereka pulang."Para pejabat setempat mengatakan kepada BBC bahwa runtuhnya gletser memicu gelombang banjir besar tersebut.Arus deras menerjang rumah-rumah dan jalan-jalan, serta menghancurkan salah satu jalur penyeberangan utama di perbatasan Nepal-Tibet.'Kondisi di Nepal kritis, tetapi harapan masih ada'Situasi di Nepal saat ini "kacau", menurut Dhruba Gurmachhan dari organisasi bantuan kemanusiaan World Vision.Berbicara kepada BBC Radio 5 Live dari Nepal, Gurmachhan mengatakan warga yang terdampak bencana "sangat menantikan" bantuan."Rumah-rumah mereka hanyut terbawa arus... semuanya lenyap. Ini adalah situasi yang sangat memilukan dan kritis di sini," ujarnya.Meski demikian, Gurmachhan mengatakan ia yakin "masih ada harapan" bahwa mereka yang hingga kini belum ditemukan "dapat ditemukan dalam keadaan hidup", karena gangguan konektivitas jaringan komunikasi masih menyulitkan kontak dengan sejumlah wilayah."Pemerintah bekerja tanpa lelah untuk menemukan mereka yang hilang... dan banyak lembaga kemanusiaan juga tengah berupaya memberikan bantuan," tambahnya.China peringatkan risiko tinggi danau bendungan alami jebolPemerintah China memperingatkan adanya "risiko tinggi" bahwa sebuah danau yang terbentuk akibat longsor baru-baru ini dapat menjebol tanggul alaminya, sehingga memicu banjir susulan di wilayah hilir.Hingga Jumat, sekitar 2,5 juta meter kubik air telah terkumpul di danau bendungan alami yang berada di dekat perbatasan Nepal-Tibet, menurut stasiun televisi pemerintah China, CCTV.Seorang lansia korban banjir bandang dievakuasi di Trishuli, Nepal, 26 Agustus 2026 (Reuters)Danau bendungan alami adalah badan air yang terbentuk ketika material longsoran atau puing-puing menghalangi aliran sungai.Danau ini terbentuk di pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo, dan mulai meluap pada Kamis (27/08), menurut Kementerian Sumber Daya Air China.Para pejabat mengatakan sekitar tiga juta meter kubik air diperkirakan akan mengalir ke danau tersebut antara Kamis hingga akhir pekan, sehingga meningkatkan "risiko tinggi tanggul alami jebol" dan memicu banjir lebih lanjut di daerah hilir.'Tolong bantu kami menemukannya' - Keluarga warga Inggris yang hilang mohon bantuanNaresh Goyal berusaha menahan emosinya saat berbicara tentang saudara perempuannya, Neetu Goyal Tiwari, 51 tahun, yang hilang sejak banjir mematikan menerjang Nepal pada Rabu.Tiwari, seorang warga negara UK, berangkat dari London menuju Delhi sebelum melanjutkan perjalanan ke Kathmandu pada 14 Agustus bersama rombongan dari organisasi spiritual Isha Foundation.Kabar terakhir yang diterima keluarganya menyebutkan bahwa ia berada di kantor imigrasi di Gyirong, kota perbatasan antara Nepal dan Tibet."Mengikuti yatra itu adalah impiannya. Dia sangat bahagia dan antusias," kata Goyal kepada BBC, merujuk pada perjalanan ziarah spiritual.Tiwari dijadwalkan kembali ke India pada Kamis untuk bertemu kakak laki-lakinya serta kedua orang tuanya.Namun, alih-alih berkumpul kembali dengan keluarga, mereka kini berjuang mencari kepastian tentang keberadaannya."Kami telah menghubungi setiap nomor layanan darurat yang diberikan pemerintah India dan juga menghubungi Kedutaan Besar Inggris di Kathmandu," ujar Goyal.Dengan suara bergetar, ia menambahkan: "Tolong bantu kami menemukannya. Kami semua sangat ketakutan."'Perubahan iklim benar-benar sedang terjadi di sini'Direktur Pusat Studi Bencana di Universitas Tribhuvan, Nepal, Basanta Raj Adhikari, mengatakan kepada program BBC Newsday bahwa ada risiko munculnya "gelombang kedua dan ketiga" bencana pada hari ini atau besok."Kami belum tahu pasti," katanya, seraya menambahkan bahwa ia terus berdiskusi dengan rekan-rekannya di China yang sedang memantau situasi tersebut. "Curah hujannya tidak tinggi, tetapi longsor bisa saja terjadi."Ia menambahkan bahwa timnya telah lama memantau berbagai ancaman di kawasan Pegunungan Himalaya."Perubahan iklim benar-benar sedang terjadi di sini," ujarnya. "Kami terus melakukan pengamatan."Sejumlah rumah terendam air berlumpur di sepanjang tepi sungai di Distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08). Banjir bandang juga menyapu permukiman di kawasan ini. (AFP via Getty Images)Seorang warga menyusuri jalan yang tertutup lumpur setelah banjir bandang melanda Trishuli, Nepal, 27 Agustus 2026 (Getty Images)Peristiwa ini adalah bencana paling dahsyat di Nepal sejak gempa pada 2015, yang menewaskan sekitar 9.000 orang.Visual dari udara menunjukkan kerusakan yang meluas pada rumah, jalan, dan jembatan di Sungai Bhotekoshi di wilayah Rasuwa, Nepal."Seluruh bangsa terkejut dan sangat berduka," kata Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah.Selain di Nepal, banjir dan longsor juga terjadi di Distrik Gyirong, Tibet. Rangkaian kejadian ini menewaskan setidaknya tiga orang, menurut laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV.Menurut CCTV, setidaknya 558 orang hilang di Gyirong. Dari angka itu, terdapat 260 warga negara asing.Perbatasan di Gyirong adalah titik penyeberangan utama bagi wisatawan dan lalu lintas antara China dan Nepal.Pada hari Rabu, media pemerintah melaporkan "banyak korban jiwa" tak lama setelah tanah longsor terjadi di perbatasan bersama.Beberapa distrik hilir di sepanjang perbatasan Nepal-China terdampak banjir dan longsor ini. Para pejabat setempat menyebut bencana ini memicu kerugian besar, baik nyawa dan harta benda, tapi mereka belum memiliki estimasi yang jelas.Baca juga: Apa penyebab banjir bandang yang menewaskan ratusan orang di Nepal dan Tibet?Sejumlah permukiman penduduk di distrik Rasuwa dan Nuwakot di sepanjang tepi Sungai Bhotekoshi, Nepal, merupakan yang terdampak paling parah. Kawasan ini tidak padat penduduk dan jalanannya berfungsi sebagai jalur vital utama untuk perdagangan Nepal-China.Infrastruktur penting di kawasan itu, seperti pembangkit listrik tenaga air, jalan raya, dan jembatan telah hancur.Ribuan turis dari berbagai negara melakukan perjalanan melalui daerah ini untuk mengunjungi Kailash Mansarovar, yang terletak di Tibet.Setiap tahun selama festival Janai Purnima, ratusan peziarah mengunjungi Gosaikunda, yang terletak di dalam taman nasional di wilayah tersebut, untuk beribadah.Apa saja yang telah diketahui terkait banjir dan longsor di Nepal ini?'Tidak ada kesempatan sama sekali untuk menyelamatkan diri'"Anggota keluarga saya tersapu banjir di depan mata saya," kata Kalpana Malla, warga Distrik Nuwakot, Nepal.Kalpana mengatakan, ayah, ibu, saudara perempuan, dan anak-anak saudara perempuannya semuanya tersapu banjir dan longsor."Mereka tidak bisa melarikan diri dari banjir, tidak ada kesempatan sama sekali," katanya."Banjir ini merenggut segalanya. Saya dan putra saya memanjat atap rumah dan selamat, tapi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kami bisa selamat," ujarnya.Seorang korban banjir dirawat di sebuah rumah sakit di Distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08) (AFP via Getty Images)Putra Kalpana, Sugam Malla, berkata dia menyelamatkan ibunya dengan menarik tangannya."Sebelumnya saya telah memberikan ponsel saya kepada saudara perempuan saya agar tetap aman dan dapat menghubungi orang untuk meminta bantuan. Tapi sekarang dia tidak dapat dihubungi, ponselnya mati. Saya khawatir dia pasti tersapu banjir," kata Sugam.Warga lainnya, Goma Pandit, kehilangan semua hewan ternaknya."Lahan pertanian saya juga hanyut. Sepuluh karung biji sawi, berton-ton jagung dan padi semuanya hilang. Tidak ada yang tersisa," ujarnya.Rekaman CCTV menunjukkan orang-orang berlari menjauh saat lumpur dan banjir bandang menghancurkan bangunan di sebuah lembah di perbatasan Nepal-China, di Gyirong, Tibet, Rabu (26/08) (Reuters)Warga Nepal penyintas peristiwa ini, Keshav Prasad Baral, menyebut banjir di perbatasan antara Nepal dan Tibet tampak seperti "semburan lumpur besar yang datang langsung ke arah kami".Laki-laki berusia 68 tahun itu kini tengah dirawat di rumah sakit. Dia berkata, air naik semakin tinggi sebelum memasuki rumahnya.Baca artikel lainnya terkait Nepal:Mengapa Pegunungan Himalaya yang megah semakin sulit terlihat?Gedung DPR dibakar, 22 orang tewas, PM mundur Apa yang diketahui soal demo di Nepal?'Politisi makin kaya, kami menderita' Kesaksian Gen Z yang menggulingkan pemerintah Nepal dalam 48 jamSaat peristiwa itu terjadi, Keshav berusaha meraih tangan istrinya. Namun istrinya tetap tersapu banjir dan longsor."Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia telah tiada," katanya.Banyak keluarga menanti kabar di rumah sakitBanyak keluarga masih terus mencari kerabat mereka yang hilang.Shreejana Shrestha, jurnalis BBC Nepali, mengunjungi sebuah rumah sakit di Kathmandu. Beberapa korban selamat diterbangkan dengan helikopter untuk menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.Sejumlah warga memandangi lanskap permukiman mereka yang tersapu dan terdampak banjir di Nepal, Rabu (26/08) (Reuters)Di sisi lain, banyak keluarga berkumpul di luar rumah sakit. Mereka dengan harapan menemukan orang-orang terkasih mereka.Warga Nepal, Ram Kumari Shrestha, mencari suaminya. Saat bencana terjadi, suaminya yang bekerja sebagai pengemudi sedang menuju Distrik Rasuwa.Ram belum mendengar kabar darinya sejak satu hari sebelum banjir dan longsor terjadi.Ratusan korban hilang berasal dari berbagai negaraTerdapat 45 warga Indonesia yang berdomisili di Kathmandu, Nepal, menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia. Mereka bekerja di sektor perhotelan.Namun hingga berita ini dipublikasi, Kedutaan Besar Indonesia di Dhaka dan di Beijing terus belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak banjir dan longsor ini.Saat ini otoritas Indonesia di Dhaka tengah fokus memastikan ada atau tidaknya WNI yang mendaki di sekitar Nepal."Kami mengimbau agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal untuk segera menyampaikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi WNI, terutama yang sedang melakukan perjalanan atau pendakian," begitu pernyataan Kemlu.Seorang perempuan berduka di luar rumah sakit setelah banjir bandang di Trishuli Bazar, Distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08) (Reuters)Orang-orang yang hilang juga terdiri dari 100 warga India, 54 warga Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris, menurut badan pariwisata Nepal.Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut 53 warga merkea saat ini juga di perbatasan Nepal-Tibet.Mereka menyebut tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa warga Ukraina termasuk di antara korban tewas atau luka-luka.Pemerintah Australia menyatakan bahwa sejumlah warga mereka berada di daerah yang terendam banjir. Namun otoritas Australia belum mengkonfirmasi jumlah pasti warga mereka yang dilaporkan hilang.Seorang juru bicara dewan pariwisata di Nepal mengatakan bahwa 24 warga Kanada dilaporkan hilang.Kesaksian agen tur yang bawa turis ke NepalKumar Adhikari, manajer sebuah perusahaan perjalanan, menerima ribuan panggilan dari puluhan keluarga warga Inggris yang hilang. Agen perjalanan ini mengoperasikan sejumlah perjalanan wisata mereka melintasi perbatasan Nepal-Tibet, lapor kantor berita Press Association.Operator agen perjalanan itu berkata kepada BBC, mereka telah mencoba menyewa helikopter penyelamat. Namun helikopter, klaim mereka, tidak bisa terbang karena kondisi yang buruk.Press Association melaporkan, empat pemandu wisata Nepal yang bekerja untuk agen perjalanan dari Inggris ini hilang.Kumar Adhikari mengatakan, dia telah menghubungi para pemandu ketika mereka diperkirakan berada di kantor imigrasi Tibet. Namun sambungan telepon itu tidak bisa terhubung."Kami berharap mereka aman," kata Kumar kepada PA. "Tapi kemudian saya menerima video dari pemerintah China yang menunjukkan, bahkan, sisi Tibet pun terkena banjir."Baca artikel sebelumnya:Gempa Nepal: Mencari jasad di bawah tumpukan puing dengan mangkuk dan piringGempa mematikan guncang Nepal, ratusan orang meninggal dunia dan luka-lukaPemandu Gunung Everest terjebak berhari-hari, bertahan hidup dengan makan cokelat dan 'mengunyah es'Kumar berkata, dia perlahan menanggapi banyak keluarga turis yang berjalan bersama perusahaannya. Namun dia belum dapat memberikan informasi terbaru, walau dia telah menghubungi konsulat Inggris dan mengirimkan salinan paspor kliennya."Saya merasa sangat sedih. Kami hanya memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya," kata Kumar."Saat ini kami sedang berduka, sangat berduka," ujarnya.Apa pemicu banjir dan longsor ini?Setiap kali terjadi banjir seperti ini di Himalaya, satu pertanyaan yang muncul secara spontan adalah: apa penyebabnya?Persoalannya, seringkali adalah tidak ada jawaban pasti yang bisa didapatkan secara instan. Lanskap yang sulit di Himalaya, termasuk di Tibet, tempat yang menurut beberapa orang merupakan asal mula banjir hampir tidak dihuni manusia.Awalnya otoritas setempat menganggap gempa bumi adalah faktor pemicu banjir bandang.Namun analisis terbaru dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak ada gempa di di sekitar Nepal. Lembaga ini menyebut gletser yang runtuh dan aliran puing adalah penyebab aktivitas seismik tersebut."Analisis tambahan terhadap gelombang seismik periode panjang menunjukkan bahwa energi seismik tersebut justru dihasilkan oleh tanah longsor," demikian pernyataan Badan Survei Geologi AS.Seorang laki-laki yang terluka dirawat di rumah sakit setelah banjir bandang di Trishuli, distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08) (Reuters)Para pejabat dari departemen meteorologi dan hidrologi Nepal mengatakan kepada BBC, beberapa gambar yang mereka lihat menunjukkan bongkahan es besar (mungkin bagian dari gletser) telah runtuh dari sebuah gunung di sisi Tibet. Bongkahan itu membawa bebatuan dan sedimen lainnya.Menurut para pejabat di lembaga itu, reruntuhan tersebut mungkin telah menghasilkan sejumlah volume air karena gesekan antara bebatuan dan es saat jatuh.Sisa-sisa bebatuan dan sedimen tersebut membentuk bendungan di sungai Lhende di bawahnya, awalnya menghambat alirannya tetapi akhirnya menyebabkan bendungan tersebut jebol.Sebelumnya, ada juga kecurigaan tentang runtuhnya danau glasial, tetapi beberapa ahli gletser menolak kemungkinan tersebut.Alasan sebenarnya akan diketahui setelah citra satelit yang jelas diperoleh dan diverifikasi oleh berbagai sumber.Berbagai kelompok pakar sekarang tengah menyusun urutan kejadian.Perubahan iklim sejak lama diketahui telah mempercepat pencairan gletser atau tumpukan es di beberapa bagian Himalaya. Akan tetapi, sejumlah pakar menilai masih terlalu dini untuk menyebut gletser yang mencair sebagai pemicu utama banjir dan longsor ini.Mengapa ada begitu banyak turis di daerah yang dilanda banjir?Daerah yang dilanda banjir adalah Danau Mansarovar di dekat Gunung Kailash di Tibet dan Danau Gosaikunda di Distrik Rasuwa, NepalDua tempat yang berada di dataran tinggi ini merupakan tempat ziarah yang dihormati oleh umat Hindu, Buddha, dan Jain.Puluhan ribu turis melakukan perjalanan melalui Nepal ke Danau Mansarovar setiap tahunnya. Akhir Agustus ini adalah waktu dalam setahun di mana orang-orang, terutama turis India, cenderung mengunjungi Danau Mansarovar, serta melakukan mandi suci di Danau Gosaikunda.Pradeep Pandit, Direktur Pelaksana Alpine Kailash Trek, menyebut dua daerah ini berada rute yang sangat populer. Turis berjalan ke daerah ini setiap akhir Agustus agar mereka dapat melihat bulan purnama, yang dianggap membawa keberuntungan.Nepal terima bantuan dari luar negeriOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Nepal memobilisasi dan mengirimkan tim penyelamat dan pasokan medis darurat yang penting, kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, pimpinan utama lembaga ini.WHO menyatakan, "berkomitmen memantau risiko kesehatan masyarakat", "memperkuat pengawasan penyakit, dan memastikan masyarakat dapat terus mengakses layanan kesehatan penting."India juga mengirimkan 10 ton bantuan ke Nepal untuk membantu penanganan keadaan darurat.Seorang laki-laki berjalan menembus air berlumpur setelah banjir dahsyat, di Trishuli, distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08) (Reuters)"Kami turut berduka cita kepada keluarga yang berduka dan semua yang terkena dampak. Dalam menghadapi tantangan ini, India berdiri bersama Nepal dan rakyatnya," kata Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, dalam sebuah unggahan di X.Bersamaan dengan unggahan tersebut, terdapat foto-foto bantuan yang sedang dimuat ke pesawat yang akan menuju Nepal.Tonton juga video "Update Korban Banjir Bandang Nepal: 584 Orang Tewas, 2.400 Hilang"
















