Jakarta -
Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan memberikan kontrak senilai 2,2 miliar dolar AS atau setara Rp34,7 triliun kepada lima perusahaan. Kontrak ini ditujukan untuk membangun dan mengoperasikan reaktor nuklir skala kecil di sejumlah pangkalan militer.Pengumuman yang dikeluarkan pada pada Rabu (26/08) tersebut menetapkan target operasi reaktor pertama paling lambat pada akhir September 2028.Para pengembang mengatakan, alasannya disebut sebagai reaktor mikro (microreactors) karena setiap instalasi nuklir ini akan mudah diangkut dan dapat menghasilkan daya hingga 20 megawatt.
Reaktor-reaktor tersebut akan mematuhi seluruh peraturan lingkungan dan keselamatan yang berlaku bagi reaktor komersial. Namun, seorang juru bicara Angkatan Darat AS mengatakan bahwa reaktor ini akan diawasi langsung oleh militer, bukan oleh Komisi Pengaturan Nuklir AS yang biasanya meregulasi fasilitas komersial."Gagasan utamanya adalah pada akhirnya kami ingin agar produk yang dapat dikomersialkan," kata Jeff Waksman, Wakil Asisten Utama Menteri Angkatan Darat AS untuk Instalasi, Energi, dan Lingkungan. Menteri Angkatan Darat, Dan Driscoll, mengungkap bahwa kontrak tersebut akan mempercepat kemampuan militer "untuk menyalurkan beban dasar daya yang aman dan andal secara langsung ke instalasi-instalasi kami.""Kami sedang membangun ketahanan energi yang diperlukan untuk mengerahkan kekuatan tempur secara global, tanpa harus bergantung pada jaringan eksternal yang berpotensi rentan," tambahnya.Perusahaan yang akan terlibatAngkatan Darat telah memilih lima perusahaan untuk menggarap proyek di pangkalannya. Perusahaan tersebut antara lain:Antares Nuclear di Fort Liberty, North CarolinaBWXT Advanced Technologies di Fort Campbell, KentuckyGeneral Atomics Electromagnetic Systems di Fort Cavazos, TexasRadiant Industries di Fort Moore, GeorgiaWestinghouse Government Services di Fort Drum, New YorkChief Commercial Officer Radiant, Mike Starrett, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa proyek yang dinamakan Janus ini akan membantu perusahaannya meningkatkan skala bisnis. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan komersial, seperti pusat data, pada sekitar tahun 2030.Presiden sekaligus Chief Executive Officer (CEO) BWXT, Rex Geveden, mengatakan, "saat kami memulai pengerjaan program Janus, kami menghadirkan jalur yang paling kredibel dan andal bagi negara untuk mengimplementasikan tenaga nuklir portabel."Kritik soal 'subsidi terselubung' reaktor mahalPara pengkritik reaktor mikro mengatakan bahwa teknologi ini akan menghabiskan biaya jauh lebih besar dibandingkan reaktor konvensional. Pemerhati keselamatan juga menyoroti bahwa teknologi nuklir membawa risiko besar yang tidak dimiliki oleh sumber energi rendah karbon lainnya, misalnya, risiko kecelakaan atau potensi serangan yang ditargetkan.Program Angkatan Darat ini secara efektif menggunakan "kantong tebal militer guna memberikan subsidi terselubung" kepada perusahaan-perusahaan nuklir. Hal itu dinilai menguntungkan pihak industri yang belum mampu menemukan pelanggan sektor swasta bagi reaktor mereka yang masih berupa konsep dan tidak ekonomis. Pandangan tersebut disampaikan Alan J. Kuperman, associate professor di Lyndon B. Johnson School of Public Affairs Universitas Texas di Austin, kepada kantor berita AP. Ia juga merupakan koordinator dalam Proyek Pencegahan Proliferasi Nuklir.Sementara itu, Jeff Waksman dari pihak militer mengatakan, tidak ada yang menganggap reaktor mikro akan lebih murah dibandingkan pembangkit konvensional."Apa yang sedang kami coba wujudkan di sini dengan Janus ... adalah mencari cara untuk menekan harga tersebut," ungkapnya.Persoalan limbah radioaktifWaksman memastikan bahwa reaktor mikro akan mati secara aman jika terjadi kegagalan sistem. Ia menambahkan, Angkatan Darat tidak akan memasangnya di pangkalan mana pun tanpa ada kepastian bahwa instalasi tersebut aman.Lebih lanjut, ia menyebut militer AS itu sedang mengupayakan kesepakatan dengan Departemen Energi AS untuk memindahkan limbah radioaktif. Sehingga, tidak akan ada penyimpanan jangka panjang di pangkalan-pangkalan tersebut.Pada Juli 2026, lima negara bagian menawarkan diri untuk menampung limbah nuklir sebagai bentuk imbalan atas dukungan pemerintah federal dalam pengembangan fasilitas energi nuklir.Dorongan Trump pada energi nuklir ASPerintah eksekutif yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump pada Mei 2025 memang ditujukan untuk mempercepat pengembangan tenaga nuklir. Trump telah menyerukan agar AS melipatgandakan produksi energi nuklirnya hingga empat kali lipat. Sebagai catatan, dalam hampir 50 tahun terakhir, hanya dua reaktor nuklir besar yang dibangun dari awal di Amerika Serikat. Menurut laporan kantor berita AP, kedua reaktor tersebut pun selesai lebih lambat dari jadwal dan menelan biaya lebih besar setidaknya 17 miliar dolar AS (sekitar Rp302 T) dari anggaran.Menurut data Badan Informasi Energi AS, sebanyak 94 reaktor nuklir negara AS saat ini memasok sekitar 19% kebutuhan listrik nasional, dibandingkan dengan sekitar 60% dari bahan bakar fosil dan 21% dari sumber terbarukan.Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa InggrisDiadaptasi oleh Muhammad HanafiEditor: Tezar Aditya RahmanLihat juga Video: Sejarah Bom Atom dan Pencegahan Nuklir










