Hingga saat ini setidaknya 150 orang tewas dan ratusan orang, termasuk turis dan pendaki, hilang setelah banjir bandang menerpa perbatasan Tibet-Nepal.Banjir bandang menerjang wilayah perbatasan Himalaya, Rabu (26/08) pagi waktu setempat, menewaskan sedikitnya 157 orang di Nepal dan tiga orang di Tibet, menurut pihak berwenang setempat.Stasiun televisi CCTV milik pemerintah China melaporkan 265 orang hilang di kawasan Gyirong di Tibet dekat perbatasan, sementara kantor berita Xinhua melaporkan lebih banyak korban jiwa.
Para pejabat dari Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan lebih dari 400 turis hilang, sekitar 340 di antaranya adalah warga negara asing.Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, sudah mengonfirmasi 34 warga Australia termasuk korban yang hilang. Menurutnya, saat ini ada kesulitan untuk mendapatkan informasi dari Nepal."Nepal adalah negara yang berkembang. Tidak punya cukup sarana seperti di Australia. Jadi informasi sangat sulit," ujar PM Albanese.Sementara itu perusahaan pendakian asal Amerika Serikat, Himalayan Glacier, mengkonfirmasi 15 warga Australia yang mengikuti tur mereka, hilang di Nepal setelah banjir bandang.Mereka mengatakan sekelompok 47 orang, termasuk 15 warga Australia, belum ditemukan di Lembah Langtang.Direktur eksekutif dari perusahaan tersebut mengatakan ia belum dapat menghubungi kelompok tersebut, yang terdiri dari 9 warga Nepal, dua dari Inggris, dua dari Singapura, dan lainnya dari Amerika Serikat dan Rusia.Pejabat dari pariwisata Nepal mengatakan banjir melanda dekat rute populer menuju Kailash Manasarovar di Tibet, sebuah lokasi yang dikunjungi setiap tahun pada waktu ini oleh ratusan peziarah Hindu, dan dekat Taman Nasional Langtang, tujuan pendakian yang populer.[Peta]Gletser yang mencair diyakini penyebabnyaRekaman video yang diambil di sisi perbatasan Nepal dan Tibet menunjukkan banyak orang mengungsi sebelum aliran batu, lumpur, dan air menghancurkan rumah, bangunan, dan kendaraan.Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, awalnya mengatakan jika gempa bumi yang menyebabkan longsoran salju dan es yang memicu banjir di sepanjang sungai Bhote Koshi di Rasuwa.Namun, para pakar iklim dari Kathmandu-based International Centre for Integrated Mountain Development yakin kalau longsoran gletser kemungkinan besar menyebabkan banjir tersebut.Mereka mengatakan permukaan air sungai naik hingga 9 meter dalam setengah jam pada puncak banjir."Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang luar biasa," kata mereka dalam sebuah pernyataan.Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengatakan bahwa data satelit menunjukkan bahwa "longsoran salju-batu" di perbatasan Nepal-China mungkin telah menyebabkan banjir tersebut.Operasi penyelamatan masih berlangsungMenurut juru bicara militer Raja Ram Basnet, helikopter penyelamat Nepal belum dapat mendarat di daerah yang terkena dampak sampai air surut.Presiden China Xi Jinping mendesak upaya pencarian sepenuhnya, serta menguatkan sistem pemantauan dan peringatan dini untuk mencegah bencana susulan.Media pemerintah China mengatakan akses ke daerah tersebut terputus dan saluran komunikasi terputus.Devendra Subedi, editor senior di Nepal Television, mengatakan kepada ABC's The World bahwa banjir datang tiba-tiba."Cuaca cerah… tiba-tiba dengan suara yang dahsyat, sungai meluap dan menghanyutkan beberapa permukiman," katanya.Ia mengatakan "hampir semuanya hanyut" di hingga lima distrik dan sulit untuk mendapatkan informasi pasti tentang apa yang telah terjadi."Kerusakannya sangat luar biasa, butuh beberapa hari untuk mendapatkan kepastian," katanya kepada ABC."Pemerintah mengerahkan semua mekanismenya, termasuk tentara dan helikopter swasta.""Bagian terburuknya adalah komunikasi menjadi sulit karena sebagian besar jalur komunikasi telah hanyut oleh banjir."Australia desak turis ikuti anjuran keselamatanKedutaan Besar Australia di Nepal mengeluarkan pernyataan bersama dengan negara-negara lain, termasuk Inggris, yang mendesak warganya yang terkena dampak untuk mengikuti panduan dan anjuran keselamatan dari otoritas setempat."Doa kami bersama semua yang terkena dampak bencana ini," demikian pernyataan tersebut."Kami menyampaikan solidaritas kami kepada rakyat Nepal selama masa sulit ini."Kantor Luar Negeri Inggris mengatakan pihaknya "sangat sedih atas kehilangan nyawa dan kehancuran", sementara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan pihaknya mengetahui adanya warga Amerika yang terdampak banjir di Nepal dan sedang memantau situasi dengan cermat."Kedutaan Besar bekerja sama erat dengan agen wisata lokal dan otoritas setempat untuk membantu warga Amerika di daerah yang terkena dampak," kata seorang juru bicara.Peringatan akan ada banjir lagiPerdana Menteri Nepal Balendra Shah mendesak masyarakat untuk "bersabar" dan "bersatu"."Saya ingin meyakinkan kalian tidak sendirian di masa sulit ini, negara bersama kalian dengan segala cara dan apa yang kita miliki," katanya dalam sebuah pernyataan."Pemerintah bertanggung jawab penuh atas penyelamatan, perawatan, makanan, dan tempat tinggal kalian."Perdana Menteri India Narendra Modi sudah menawarkan "bantuan kemanusiaan" untuk penyelamatan dan pemulihan setelah berbicara dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah.Otoritas di negara bagian Bihar, India, mulai mengevakuasi hingga 12.000 orang dari enam distrik karena khawatir akan banjir di wilayah tersebut.Lembaga International Centre for Integrated Mountain Development memperingatkan banjir kedua mungkin akan segera terjadi."Dengan penyumbatan yang masih terjadi di hulu sungai perbatasan Nepal-China, pihak berwenang memperingatkan bahwa banjir kedua mungkin akan terjadi," kata Qianggong Zhang, kepala risiko iklim dan lingkungan pusat tersebut, kepada AFP.Otoritas Listrik Nepal mengatakan sekitar 430 megawatt kapasitas produksi, termasuk dari fasilitas tenaga air dan tenaga surya, juga rusak akibat banjir."Bencana tersebut telah merusak fasilitas produksi, transmisi, dan distribusi Otoritas… mengakibatkan gangguan pasokan listrik," katanya.Jalan raya dan jalan utama juga telah ditutup di Nepal dan Tibet.Otoritas lalu lintas di Shigatse, Tibet, mengatakan jalan-jalan di daerah tersebut "berisiko longsor dan tidak aman untuk dilalui".Sebagian dari artikel ini diproduksi berdasarkan laporan ABC News oleh Erwin Renaldi.Simak juga Video: Korban Banjir Bandang Nepal: Istri Saya Sudah Terkubur Akibat Longsor
















