Rote Ndao -

Indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, naik dari 66,64% pada 2025.Di saat akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan semakin luas, pemahaman mengenai cara mengelola keuangan juga terus didorong. Hal itu agar masyarakat tidak hanya mengenal layanan keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak dan memahami berbagai risikonya.Upaya tersebut turut dibawa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga ke daerah, termasuk Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Edukasi literasi keuangan diberikan kepada pelajar SMA Negeri 1 Rote Selatan dalam rangkaian Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) Provinsi NTT 2026.

Dalam sesi tersebut, Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos (Sandi), jurnalis Stabilitas.id, mengajak para pelajar memahami pengelolaan keuangan melalui hal yang dekat dengan keseharian mereka, yakni uang jajan.Dalam sesi tersebut, Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos (Sandi), jurnalis Stabilitas.id, mengajak para pelajar memahami pengelolaan keuangan melalui hal yang dekat dengan keseharian mereka, yakni uang jajan.Ia mengibaratkan pengelolaan uang seperti sebuah perahu yang digunakan masyarakat pesisir untuk melaut. Perahu yang mengalami kebocoran kecil tetap berisiko karam jika tidak segera diperbaiki. Begitu pula dengan uang yang terus digunakan tanpa perencanaan."Jadi, sama dengan kapal tadi, kapal bocor halus atau sampan bocor halus. Kalau kita paksa jalan, kita akan karam di lautan. Itu alasannya kenapa, itu sama dengan kita punya uang jajan. Kalau kita tidak rencanakan dengan baik, maka dia akan bocor halus," kata Sandi di SMA Negeri 1 Rote Selatan, Rote Ndao, NTT, Rabu (19/8/2026).Ia kemudian mengajak siswa menghitung kembali penggunaan uang jajan mereka. Menurut Sandi, kebiasaan mengelola uang sejak sekolah penting karena kebutuhan finansial akan semakin besar ketika mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.Salah satu cara yang diperkenalkan adalah membagi uang berdasarkan kebutuhan. Dari setiap Rp100.000 yang dimiliki, misalnya, 50% dapat dialokasikan untuk kebutuhan wajib, 30% untuk kebutuhan lainnya atau berjaga-jaga, dan 20% disisihkan untuk tabungan."Jadi prinsipnya begini Adik-adik, ketika saya dapat uang bulanan, kalau harian kan Rp 5.000 mungkin terlalu kecil, tapi kita bisa mulai dengan Rp 1.000 atau Rp 2.000. Kalau dapat uang Rp 50.000, langsung sisihkan. Sisihkan Rp 20.000 untuk simpanan," ujarnya.Menurutnya, nominal yang disisihkan tidak harus besar. Kebiasaan tersebut justru dapat dimulai dari uang dalam jumlah kecil dan dilakukan secara konsisten.Sandi juga mendorong para pelajar memanfaatkan Simpanan Pelajar (SimPel) untuk membangun kebiasaan menabung sejak dini. SimPel merupakan produk tabungan yang diperuntukkan bagi pelajar dan menjadi salah satu sarana bagi siswa untuk mulai memiliki serta mengelola rekening sendiri."Jangan cuma tabungan hari ini, besok uang sudah habis sudah tarik semua. Kalau tidak, Bapaknya ambil buat beli rokok kah, Mamanya ambil buat beli apa kah. Kalau bisa kita saling mendukung program yang bagus itu menabung dari yang kecil angkanya," tuturnya.Kebiasaan tersebut dinilai penting sebagai bekal sebelum para pelajar memasuki fase kehidupan yang menuntut mereka lebih mandiri dalam mengatur keuangan.Pencegahan Judol dan Investasi Bodong Foto: Rahmat Khairurizqi/detikcomEdukasi di Rote Ndao juga tidak berhenti pada kebiasaan menabung. Para pelajar diingatkan mengenai berbagai risiko yang dapat muncul ketika mereka menggunakan uang tanpa pertimbangan, terutama di tengah kemudahan akses digital.Sandi menyinggung penggunaan uang untuk top up game online secara berlebihan hingga judi online yang dapat mengganggu pengelolaan keuangan anak muda. Ia juga mengingatkan para pelajar agar tidak mudah tergoda berbagai penawaran investasi ilegal maupun pinjaman online.Dalam pemaparannya, Sandi turut menjelaskan peran OJK yang memiliki fungsi mengatur, mengawasi, dan melindungi masyarakat sebagai konsumen sektor jasa keuangan."Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 itu dibentuk fungsinya itu ada tiga: mengatur, mengawasi, dan melindungi. Melindungi itu yang penting juga," kata Sandi.Ia menekankan pentingnya memastikan uang disimpan melalui lembaga jasa keuangan yang resmi. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu diberikan sejak sekolah agar para pelajar memiliki bekal ketika nantinya mulai menggunakan lebih banyak produk dan layanan keuangan.Selain itu, Sandi mengatakan pelajar SMA merupakan kelompok yang perlu mendapatkan pemahaman tersebut karena mereka akan menjadi nasabah di masa mendatang."Dan adik-adik SMA ini adalah target nasabah masa depan yang harus dikasih masukan dan pegangan kepada mereka ketika memasuki dunia kuliah dan kerja, bagaimana mengelola keuangan dengan baik," ujarnya.Menurut Sandi, literasi keuangan sejak dini juga membantu pelajar memahami bahwa uang tidak hanya digunakan untuk memenuhi keinginan, tetapi perlu direncanakan agar dapat menunjang kebutuhan dan masa depan.Hal senada disampaikan Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk. Ia menilai kebiasaan menabung perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak dini, salah satunya melalui uang jajan yang diberikan orang tua."Jadi seperti yang disampaikan tadi juga oleh berbagai narasumber bahwa dengan momentum ini, melalui kesempatan ini kami mengajak anak-anak di Rote Ndao untuk secara bijak menyisihkan mungkin yang diberikan uang jajan oleh orang tuanya, bisa disisihkan setiap hari atau setiap minggu, setiap bulan, menyisihkan sedikit dari uang jajan mereka untuk mulai belajar menabung," kata Paulus.Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan sekadar mengajarkan anak menyimpan uang, tetapi juga melatih mereka bertanggung jawab terhadap keuangan sejak usia sekolah.Dari Rote, Dorong Satu Rekening untuk Setiap PelajarEdukasi keuangan yang berlangsung di Rote Ndao menjadi bagian dari gerakan yang melibatkan pelajar dari 22 kabupaten/kota di NTT. Kegiatan digelar secara luring dan daring untuk mendorong perluasan literasi sekaligus inklusi keuangan di wilayah tersebut.Salah satu program yang didorong dalam momentum tersebut adalah Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Program ini diarahkan untuk membangun kebiasaan menabung di kalangan pelajar dengan mendorong setiap siswa memiliki rekening tabungan sejak dini.Di NTT, rekening yang digunakan antara lain Simpanan Pelajar (SimPel), sehingga pelajar tidak hanya dikenalkan dengan aktivitas menabung, tetapi juga mulai memiliki pengalaman menggunakan layanan keuangan formal.Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan peningkatan akses terhadap layanan keuangan perlu dilakukan secara merata, termasuk bagi masyarakat yang berada di wilayah kepulauan dan daerah yang jauh dari pusat perkotaan."Program KEJAR ini tidak boleh berhenti setelah rekening dibuka. Setelah kegiatan ini selesai, pekerjaan kita justru terus berjalan untuk membangun kebiasaan menabung dari anak-anak kita," kata Melki dalam sambutannya.Ia menilai pembukaan rekening bukan menjadi tujuan akhir. Rekening yang telah dimiliki pelajar perlu digunakan secara aktif sehingga kebiasaan menabung benar-benar terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.Momentum tersebut sekaligus mencatatkan capaian besar bagi NTT. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan, pembukaan rekening SimPel secara serentak mencapai 220.194 rekening dan berhasil mencatatkan Rekor MURI pembukaan rekening SimPel secara serentak terbanyak.Capaian tersebut mengalahkan rekor yang sebelumnya telah bertahan sekitar 10 tahun dan menjadi penanda gerakan menabung yang melibatkan pelajar di seluruh NTT.Bagi pemerintah daerah, capaian itu bukan sekadar mengejar jumlah rekening yang dibuka. Setelah rekening dimiliki, tantangan berikutnya adalah memastikan rekening tersebut tetap aktif dan diisi secara rutin oleh para pelajar.Melki pun menegaskan bahwa rekor tersebut bukan tujuan akhir dari Program KEJAR."Saya menegaskan bahwa rekor ini bukan tujuan akhir. Rekor ini adalah penanda bahwa kita mampu bergerak bersama dalam skala besar. Rekor selesai, tapi yang jauh lebih penting adalah membuat rekening yang telah dibuka tetap aktif, anak-anak kita terus menabung, dan program ini kita bangun melalui pendampingan yang berkelanjutan."Dengan demikian, rangkaian HIM 2026 di Rote Ndao tidak berhenti pada seremoni pembukaan rekening. Edukasi yang diberikan kepada pelajar menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan finansial sejak usia sekolah, mulai dari menyisihkan uang jajan, mengenal tabungan, hingga memahami risiko penggunaan layanan keuangan di ruang digital.Pemahaman sederhana itu mulai ditangkap oleh para siswa yang mengikuti edukasi. Salah satunya Sidensi Miangada, siswa kelas 10B SMA Negeri 1 Rote Selatan. Ia mengaku biasanya membawa uang saku Rp 5.000 ke sekolah dan menggunakannya untuk membeli jajanan di kantin.Setelah mengikuti sosialisasi, Sidensi mendapat gambaran baru mengenai cara membagi uang yang dimiliki antara kebutuhan dan simpanan."Bagaimana cara supaya kita mendapatkan uang, dan misalnya ada dapat Rp 50.000, kita bisa membagi 20% sebagai simpanan, dan yang lain bisa kita gunakan untuk keperluan kita. Lebih mementingkan keperluan daripada keinginan," kata Sidensi. Bagi para pelajar di Rote Selatan, literasi keuangan pun diperkenalkan melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka. Sebab, kemampuan mengelola uang bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat ditabung, tetapi juga bagaimana mengambil keputusan terhadap uang yang dimiliki dan membedakan kebutuhan dari keinginan.Dari uang saku yang diterima sehari-hari, kebiasaan tersebut dapat mulai dibangun sedikit demi sedikit untuk menjadi bekal ketika para pelajar kelak mengelola keuangannya secara mandiri.