Jakarta -
Rusia melancarkan gelombang serangan rudal ke ibu kota Ukraina, Kyiv, dan wilayah sekitarnya pada Rabu (05/08) dini hari. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya.Menurut pemerintah setempat, satu orang tewas di Kota Kyiv, sementara 14 korban lainnya dilaporkan tewas di wilayah sekitar ibu kota.Serangan dimulai setelah tengah malam, ketika sirene peringatan serangan udara berbunyi di seluruh Kyiv selama lebih dari satu jam. Sebelumnya, Angkatan Udara Ukraina telah memperingatkan adanya rudal balistik yang mengarah ke wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Angkatan Udara Ukraina, sistem pertahanan udara negara itu tidak berhasil mencegat satu pun rudal Rusia dalam serangan semalam yang melibatkan 115 drone dan 28 rudal berkecepatan tinggi, termasuk rudal balistik.Dalam unggahannya di platform X, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa "rudal pencegat balistik seharusnya dapat menyelamatkan nyawa mereka yang tewas hari ini." "Yang sangat penting untuk dipahami oleh para mitra kami adalah bahwa keterlambatan pengiriman, atau keengganan menyediakan sistem pertahanan anti-balistik, secara langsung menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kehancuran yang mengerikan seperti ini," tambahnya.Apa yang diketahui tentang serangan Rusia?Administrasi Militer Kyiv mengatakan sedikitnya tujuh lokasi di ibu kota menjadi sasaran serangan. Rudal-rudal tersebut merusak bangunan permukiman dan gudang penyimpanan."Dengan sengaja, musuh kembali menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil," tulis administrasi militer Kyiv melalui Telegram.Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan sebuah gudang di dekat pusat kota hancur akibat serangan. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi dua orang dari bawah reruntuhan."Masih ada kemungkinan terdapat orang yang terjebak di bawah puing-puing," tulis Klitschko. "Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung."Klitschko mengatakan laporan awal yang menyebut sebuah gedung apartemen 20 lantai terbakar ternyata tidak benar. Namun, kebakaran besar tetap terjadi di pinggiran kota. Selain itu, puing-puing dari rudal yang berhasil dicegat jatuh di dekat sebuah bangunan permukiman.Serangan tersebut juga memicu kebocoran amonia yang kini masih ditangani oleh tim tanggap darurat.Selama serangan berlangsung, satuan pertahanan udara Ukraina berupaya mencegat rudal-rudal yang diluncurkan Rusia.Intensitas serangan Rusia ke Kyiv terus meningkatRusia telah beberapa kali melancarkan serangan ke Kyiv dalam sebulan terakhir.Pada Sabtu lalu,serangan Rusia ke ibu kota Ukraina dan wilayah pinggirannya menewaskan 10 orang dan melukai lebih dari 30 lainnya. Pada hari yang sama, Ukraina mengklaim berhasil menenggelamkan sebuah kapal Rusia di Laut Hitam menggunakan drone.Dalam beberapa pekan terakhir, kedua belah pihak sama-sama meningkatkan serangan jarak jauh. Menurut analisis kantor berita AFP, Rusia menggunakan lebih dari dua kali lipat jumlah rudal pada Juli dibandingkan periode sebelumnya. Di sisi lain, Ukraina juga meningkatkan serangan drone yang menyasar fasilitas minyak, gas, dan jalur logistik Rusia.Pada Selasa, serangan di wilayah Moskow menewaskan lima orang dan melukai 10 lainnya. Serangan tersebut menghantam gudang milik perusahaan ritel Rusia, Wildberries. Wali Kota Moskow mengatakan sistem pertahanan udara kota itu berhasil menembak jatuh sedikitnya 10 drone pada Rabu.Mengapa Ukraina meminta lebih banyak rudal pencegat Patriot?Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mendesak negara-negara sekutu untuk memasok lebih banyak rudal pencegat Patriot. Menurutnya, keterbatasan sistem pertahanan udara tersebut justru mendorong Rusia terus melancarkan serangan yang memakan korban jiwa.Pekan lalu, Zelenskyy bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melobi Washington agar memberikan lisensi bagi Ukraina memproduksi sistem pertahanan Patriot di dalam negeri.Sementara itu, pemantau hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan atas meningkatnya jumlah korban sipil dalam perang. Menurut PBB, angka korban sipil kini mencapai tingkat tertinggi sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022.Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama membantah sengaja menargetkan warga sipil dalam perang tersebut.Artikel ini diadaptasi dari artikel Bahasa InggrisDiadaptasi oleh Cinta ZanidyaEditor: Rizki Nugraha








