WONOSOBO, KOMPAS.com – Tangis Tri Murniyati pecah saat putranya dinyatakan resmi menjadi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Wonosobo, Jawa Tengah, pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (31/7/2026).

Bagi perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu, momen tersebut terasa seperti jawaban atas kegelisahan panjang tentang masa depan anaknya.Melalui kisah penghasilan Rp 700.000 per bulan yang diterimanya, Tri harus menghidupi lima anggota keluarga seorang diri. Keterbatasan ekonomi membuatnya nyaris kehilangan harapan untuk menyekolahkan putranya, Muhammad Daud, hingga jenjang yang lebih tinggi.

Baca juga: Tampung 359 Siswa Kurang Mampu, Sekolah Rakyat Terpadu 1 Kulon Progo Mulai MPLS

Namun harapan itu kembali tumbuh ketika Daud diterima di Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang digagas pemerintah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Kami sangat bersyukur. Terima kasih kepada Bapak Presiden dan semua pihak yang sudah menghadirkan Sekolah Rakyat. Melalui kesempatan ini, anak-anak kami yang berasal dari keluarga kurang mampu tetap bisa meraih cita-cita dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujar Tri sambil menahan tangis.