DEMOKRASI sehat tidak sekadar dibangun di atas fondasi kalkulasi angka elektoral, melainkan dipelihara oleh sirkulasi ruang publik sehat, saling menghormati, dan dipenuhi empati.

Filsuf Jerman, Habermas, dengan jelas mengajarkan soal ini. Karena itu, ketika kekuasaan mulai menjauh dari realitas dihadapi warga, baik karena kebijakan maupun retorika (gaya komunikasi), ruang publik itu akan segera memanas, memicu ketidakpastian, lambat laun menggerus legitimasi pemerintahan itu sendiri.

Fenomena inilah yang tampaknya sedang membayangi jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menjelang dua tahun kekuasaannya pada Oktober 2026 nanti angka kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja Presiden malah merosot tajam berdasarkan hasil survei nasional terbaru oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Hasil survei SMRC yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 yang dirilis Minggu (26/7/2026) menjadi potret sosiologis tidak bisa diabaikan.