PELUIT panjang telah berbunyi di East Rutherford. Spanyol mengangkat trofi setelah menundukkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak tambahan, konfeti tumpah, dan FIFA menutup pestanya dengan moto yang sebulan penuh menghiasi 16 stadion: Football Unites the World. Sepak bola menyatukan dunia.

Pertanyaannya sederhana dan menyakitkan: dunia yang mana? Bukan dunia Mohamed al-Wahidi.Awal Juli, pejabat Komite Mesir di Gaza itu tewas bersama dua bocah kakak-beradik dalam serangan udara Israel di Kota Gaza, beberapa saat sebelum kickoff laga 16 besar Mesir melawan Argentina.

Ironinya nyaris terlalu sempurna: al-Wahidi adalah penyelenggara layar-layar nonton bareng Piala Dunia di seluruh Gaza.

Ia sedang menyiapkan warganya untuk sejenak lupa—dan kematiannya mengingatkan, lupa adalah kemewahan yang tak dimiliki Gaza, bahkan di bawah gencatan senjata yang formal berlaku sejak Oktober.

Bukan pula dunia Timnas Iran. Team Melli datang ke Amerika Serikat sebagai tim yang negaranya berperang dengan tuan rumah sejak Februari.