Penulis: Muhammad Hanafi/DW Indonesia

KOMPAS.com - Indonesia merupakan salah satu penyumbang tenaga kerja terbesar bagi industri perikanan dunia. Menurut data pemerintah, ada ratusan ribu buruh migran yang menggantungkan nasib di sektor ini.

Namun, pakar menyoroti bahwa banyak dari mereka direkrut secara daring tanpa pemahaman memadai mengenai hak-hak mereka. Hal itu membuat mereka sangat rentan terhadap penyalahgunaan wewenang.Salah satunya adalah lelaki 25 tahun bernama Akhmad. Kepada AFP dia bercerita, sejak berangkat dari Cirebon pada 2022, dia hanya mendapatkan waktu istirahat sekitar empat jam sehari selama bekerja di kapal tuna berbendera China.

Baca juga: Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...

"Tidak ada istirahat. (Kami) harus terus bekerja," ungkap Akhmad. "Sangat melelahkan. Mata saya sakit (...) Saat mengantuk, saya tetap diperintahkan bangun dan bekerja."