YAWATA, KOMPAS.com - Ketika wali kota sebuah kota kecil di Jepang barat mengumumkan rencananya untuk cuti melahirkan, ia sudah menduga sejak awal, bahwa hal itu akan memicu pro dan kontra.

Namun, reaksi masyarakat ternyata jauh lebih keras dari yang pernah dibayangkan oleh wali kota tersebut, Shoko Kawata.Perempuan berusia 35 tahun tersebut kini berada di pusaran debat nasional mengenai kelayakan pejabat publik hasil pemilu untuk mengambil cuti melahirkan—di tengah kondisi negara yang sedang berjuang keras mendongkrak angka kelahiran.

Baca juga: Wali Kota di Meksiko Tewas Ditembak, Coreng Citra Piala Dunia

"Saya sangat terkejut karena reaksinya begitu besar," kata Kawata kepada BBC.

Saat diwawancarai di ruang rapat lantai lima Balai Kota Yawata, di selatan Kyoto yang tersohor dengan kuil dan keindahan bunga sakuranya, Kawata duduk di kursi empuk dengan diapit oleh dua wakilnya yang berusia lebih tua.