KEHADIRAN Menteri Luar Negeri Sugiono dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad, Iran, pada Juli 2026 tidak dapat dipahami hanya sebagai bentuk penghormatan diplomatik kepada seorang pemimpin yang wafat.
Di balik prosesi kenegaraan tersebut tersimpan pesan politik yang jauh lebih besar mengenai arah politik luar negeri Indonesia di tengah perubahan lanskap geopolitik global.Pertemuan bilateral antara Sugiono dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperlihatkan, Indonesia berupaya menjaga komunikasi dengan salah satu aktor penting di Timur Tengah sekaligus menegaskan kembali prinsip politik luar negeri bebas dan aktif yang selama ini menjadi identitas diplomasi Indonesia.
Momentum tersebut menjadi semakin penting karena terjadi setelah hubungan Indonesia–Iran mengalami dinamika yang tidak sederhana.
Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Januari 2026 memunculkan persepsi bahwa Jakarta mulai bergerak lebih dekat kepada poros Barat.
Persepsi itu semakin menguat ketika Indonesia dinilai terlambat menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei dan pada tahap awal hanya diwakili oleh pejabat dengan tingkat diplomatik yang lebih rendah.







