APABILA dunia modern adalah sebuah panggung raksasa, maka Donald Trump dan Lionel Messi berdiri di dua ujung panggung yang berbeda.
Yang satu memegang mikrofon politik, sementara yang lain menggenggam bola sepak.Trump mengendalikan kebijakan negara dengan ekonomi terbesar di dunia, sedangkan Messi menguasai bahasa universal yang dipahami miliaran manusia tanpa perlu penerjemah: sepak bola.
Mereka ibarat dua matahari yang bersinar pada galaksi berbeda. Kekuatan verbal Trump sangat determinatif, atau bagi sebagian orang membakar, arena geopolitik, perdagangan internasional, dan pasar keuangan.
Getaran Messi justru menghangatkan stadion, menyatukan emosi jutaan penggemar, sekaligus menggerakkan roda industri olahraga global. Yang satu memproduksi kontroversi, yang lain memproduksi kekaguman.
Di sinilah menariknya membandingkan kedua figur tersebut. Bukan untuk menentukan siapa yang lebih hebat secara absolut, melainkan untuk memahami bagaimana dua bentuk kekuasaan bekerja melalui mekanisme yang sama sekali berbeda.








