Jakarta - Semester pertama 2026 menjadi era yang berat bagi Indonesia. Dalam periode 6 bulan sejumlah gejolak ekonomi muncul. Sebut saja soal melemahnya rupiah terhadap dolar yang menyentuh angka 18 ribu rupiah per dolarnya. Tidak hanya itu, terpuruknya mata uang RI ini dibarengi dengan anjloknya harga saham hingga menembus level 5000.Hal itu disebabkan oleh melunturnya kepercayaan investor terhadap geopolitik dalam dan luar negeri. Bukan hanya diam, pemerintah sebenarnya telah melakukan sejumlah cara guna meraih kembali kepercayaan para penanam modal. Berbagai kebijakan digelontorkan agar investasi tidak bedol desa keluar dari Indonesia.Pertanyaannya, apakah pada paruh kedua 2026 ini merupakan titik balik perbaikan ekonomi Indonesia? Tentu saja sejumlah pihak optimistis terhadap perbaikan ekonomi dalam negeri. Beberapa indikator perbaikan kondisi juga muncul, seperti penetapan IHSG sebagai emerging market oleh MSCI, hingga manuver negara untuk melakukan buyback saham beberapa pekan lalu. Hal inilah yang membuat sejumlah kalangan meyakini jika Indonesia akan kembali maju di sisi ekonomi.
Memasuki bulan Mei 2026, nilai Ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 23,20 miliar. Angka tersebut menurun 5,73% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, pemicu utama penurunan ekspor secara tahunan adalah melemahnya ekspor sejumlah komoditas nonmigas."Penurunan ekspor Mei 2026 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan nilai ekspor nonmigas yaitu pada beberapa komoditas. Pertama logam mulia dan perhiasan atau permata turun 59,35% dengan andilnya yaitu -2,93% terhadap kenaikan total ekspor. Kemudian yang kedua bijih logam, terak dan abu turun 99,25% dengan andilnya -2,37%. Serta berikutnya besi dan baja 14,68% dengan andilnya -1,67%," jelasnya dikutip dari detikFinance.Sedikit banyak, hal ini berpengaruh pada Purchasing Managers' Index (PMI). Mengutip data yang dirilis S&P Global, PMI RI berada di level 46,9 atau turun jika dibandingkan pada bulan Mei di angka 50,0.Pelaku industri mengaitkan situasi ini berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan harga di berbagai sektor. Penurunan permintaan domestik juga diikuti melemahnya pesanan ekspor.Di sisi lain, tekanan biaya justru semakin meningkat. Inflasi harga input pada Juni 2026 tercatat sebagai yang tertinggi kedua sepanjang sejarah survei PMI sejak dimulai pada 2011. Kenaikan biaya ini didorong oleh mahalnya harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar.BPS juga mencatat terjadinya inflasi sebesar 0,44% secara bulanan (month to month/mtm) pada Juni 2026. Kelompok pengeluaran transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Inflasi pada kelompok transportasi dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara serta pelumas atau oli mesin. Penyesuaian harga beberapa jenis BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax juga menjadi penyebab terjadinya inflasi di sektor itu.Sementara itu, kenaikan tarif angkutan udara didorong meningkatnya permintaan masyarakat selama periode libur sekolah pada Juni 2026."Pada Juni 2026 kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,29% dengan andil inflasi 0,28%. Inflasi pada kelompok transportasi disumbang oleh kenaikan bensin, tarif angkutan udara dan pelumas atau oli mesin. Inflasi pada komoditas bensin dipicu oleh penyesuaian harga beberapa jenis BBM non subsidi seperti Pertamax. Sementara itu kenaikan untuk tarif angkutan udara terutama didorong oleh meningkatnya permintaan seiring dengan adanya periode libur sekolah pada Juni ini," jelas Ateng Hartono dilansir dari detikFinance.Melihat situasi ini, Presiden Prabowo Subianto menekankan jika penegakan hukum guna memperbaiki pertumbuhan ekonomi Indonesia, harus dilakukan. Dia mengatakan, tak akan ada kemakmuran tanpa stabilitas."Tak mungkin ada pertumbuhan ekonomi dan investasi tanpa kepastian hukum, tidak mungkin ada keadilan tanpa pemerintah yang bersih dan pemerintah yang penuh dengan korupsi," tegas Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan virtual pada Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 Rabu (1/7/2026).Pertumbuhan ekonomi yang dicita-citakan Presiden Prabowo ini tentu saja membutuhkan investasi yang besar. Menurut Indonesian Investment Authority (INA), dibutuhkan sekitar US$ 800 miliar atau sekitar Rp 14.369 triliun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% di Indonesia. Untuk menuju ke angka tersebut tak cukup didorong oleh investor domestik, bantuan dari investor asing pun digadan-gadang bisa mendorong terealisasinya target investasi itu.Dalam situasi ini, strategi pemerintah untuk meraih kepercayaan para investor akan diuji. Bukan hanya mendorong para penanam modal kelas kakap, pemerintah juga perlu menggenjot minat investor ritel. Lalu sebesar apa potensi para investor ritel dapat kembali mengudara di semester kedua 2026? Simak ulasannya dalam detikSore!Beralih ke berita daerah, detikSore akan menelusuri seluk beluk kasus penggunaan aplikasi presensi fiktif di lingkungan Pemkab Brebes. Terbaru, sembilan orang ditetapkan sebagai tersangka terkait aplikasi presensi ilegal yang digunakan ribuan ASN Brebes. Diketahui para tersangka itu berstatus sebagai guru ASN.Kapolres Brebes, AKBP Lilik Ardiansyah mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah melewati rangkaian penyelidikan. Mulai dari memeriksa saksi termasuk saksi ahli ITE hingga pengumpulan barang bukti."Hasil pemeriksaan dan pengumpulan barang bukti, petugas berhasil mengamankan 9 tersangka, yakni AH (41), DB (38), FFR (40), RTH (39), NK (41), AM (35), SEP (35), SDK (33), dan LS (38)," kata Lilik di Mapolres Brebes, Rabu (1/7/2026).Bagaimana kronologi dari kasus ini? Berapa banyak korban atau masyarakat yang dirugikan? Saksikan liputan lengkapnya bersama jurnalis detikJateng dalam segmen Berita Nusantara.Di era AI, kemampuan berbicara dan membangun citra diri menjadi semakin penting. Saat AI mampu menghasilkan informasi dengan cepat, nilai manusia justru terletak pada kemampuan menyampaikan ide, membangun kepercayaan, dan menciptakan koneksi. Karena itu, public speaking dan personal branding menjadi bekal penting untuk tetap relevan serta membuka lebih banyak peluang.Lalu, mengapa kedua keterampilan ini semakin dibutuhkan di era AI? Bagaimana cara mulai membangunnya, bahkan bagi mereka yang masih takut berbicara di depan umum? Semua akan dibahas bersama Ricky Setiawan, Co-Founder Showtime by Impact Story dalam segmen Sunsetalk.Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.







